in

Jembatan Gantung Kota Intan, jembatan indah yang terlupakan

Jembatan gantung Kota Intan adalah salah dari sekian banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda di Jakarta Barat. Jembatan Kota Intan yang dibangun pada 1628 di Jalan Kali Besar Barat, Kelurahan Roamalaka, Kecamatan Tambora, itu awalnya bernama Jembatan Engelse Brug atau Jembatan Inggris.

Jembatan ini berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda (VOC) dan Inggris (IEC) yang saat itu berseberangan dan dibatasi oleh Kali Besar.

Jembatan Gantung Kota Intan (wikipedia.org)
Jembatan Gantung Kota Intan (wikipedia.org)

Pada tahun 1629 jembatan tersebut rusak akibat serangan Kerajaan Banten dan Mataram yang menyerang Benteng Batavia. Namun karena fungsinya yang sangat vital, setahun kemudian jembatan tersebut kembali dibangun oleh Belanda dan berganti nama menjadi jembatan De Hoenderpasar Brig atau Jembatan Pasar Ayam.

Tahun 1655 Jembatan Kota Intan kembali diperbaiki karena kerusakan akibat banjir dan korosi air laut, namanya pun kembali berganti menjadi Jembatan Het Middelpunt Brug. Kemudian berganti nama lagi menjadi Jembatan Kota Intan karena letaknya dekat dengan salah satu Bastion Kastil Batavia bernama Bastion Diamont (intan).

Berubah menjadi jembatan gantung

Pada 1938 fungsi jembatan diubah menjadi jembatan gantung. Tujuannya agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir, namun bentuk dan gayanya tidak pernah diubah.

Nama jembatan kembali berubah menjadi Jembatan Phalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard karena waktu itu Ratu Juliana yang menjadi ratu di Belanda.

Jembatan Kota Intan in Jakarta (old Dutch drawbridge) - wikipedia.org
Jembatan Kota Intan in Jakarta (old Dutch drawbridge) – wikipedia.org

Jembatan ini juga pernah diberi nama Jembatan Wilhemina (Wilhemina brug), ibu dari Juliana.

Saat ini Jembatan Kota Intan merupakan satu-satunya yang tersisa dari jembatan sejenis yang pernah ada.

Untuk melestarikan keberadaannya, pada tahun 1972 Gubernur DKI, Ali Sadikin, saat itu menetapkan Jembatan Kota Intan sebagai benda cagar budaya.

BACA JUGA:  Foto-foto selfie yang tak semua orang bisa melakukannya!

Pada era Gubernur DKI Sutiyoso, tahun 1999 Jembatan Kota Intan direnovasi dengan menelan anggaran sekitar Rp 700 juta yang selanjutnya diresmikan April tahun 2000.

Tampilan jembatan pun berubah karena setiap bentangan jembatan diberikan serat optik beraneka warna, ditambah 12 lampu sorot dan pernah pula diperbaiki semasa pemerintahan Gubernur Fauzi Bowo.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan jembatan kayu bercat merah marun sepanjang 30 meter dan lebar 4,43 meter yang usianya lebih dari 300 tahun itu memprihatinkan. Sebab, warnanya telah pudar dan kayunya pun keropos dimakan zaman.

Saat ini kondisi Jembatan Kota Intan sangat memprihatinkan seolah terlupakan zaman. Cat warna merah marun yang menempel di kayu sudah banyak terkelupas, kayu-kayunya pun sudah retak.

Bahkan, di sekeliling jembatan terlihat kumuh. Maklum, di sekeliling jembatan merupakan terminal bayangan tempat mikrolet, bajaj, dan pedagang kaki lima mangkal.

Padahal, beberapa wisatawan asing dan lokal masih ramai mengunjungi jembatan tersebut, meski hanya untuk sekadar berfoto.

 

Ditulis oleh Munzalan Mubarakan

Simomot adalah situs informasi bermanfaat untuk keluarga Indonesia. Kami menyajikan info seputar bayi dan balita, bisnis, dan rumah tangga.

Comments

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.

Loading…

0

Diskusi

0 comments

5 Kisah seram dalam lautan yang masih menjadi misteri

Lowongan CPNS kementerian Perhubungan untuk SLTA/S1/S2/D2/D3/D4