Kisah Lengkap Kepahlawanan Usman dan Harun
Pahlawan Nasional; Usman dan Harun
in ,

Inilah kisah lengkap kepahlawanan Usman dan Harun yang digantung di Singapura

Nama Usman dan Harun saat ini menjadi berita hangat di media massa setelah TNI AL akan menamakan sebuah kapal perang TNI AL (KRI) dengan nama Usman Harun. Pemerintah Singapura keberatan, sebab keduanya adalah orang-orang yang dianggap teroris oleh Singapura, sementara di Tanah Air, dia adalah pahlawan bangsa.

Kapal perang TNIYa, Usman Harun merupakan nama dua prajurit Korps Komando Operasi (KKO) pada periode 1960-an, atau yang disebut Marinir AL sekarang ini. Keduanya diberi gelar pahlawan nasional setelah dihukum mati oleh Pemerintah Singapura lantaran diduga melakukan aksi terorisme di Macdonald House.

Dari mana berawal?

(Eh, jangan lupa nanti baca perkembangan terbaru kasus Usman Harun yang ini ya: Inilah Usman-Harun di JCC yang kembali bikin Singapura ngambek).

Semuanya berawal ketika pada 31 Agustus 1957 berdiri negara Persemakmuran Malaya. Saat itu Singapura ingin bergabung dalam persemakmuran namun ditolak oleh Inggris. Lalu pada 16 September 1963 dibentuk federasi baru bernama Malaysia yang merupakan negara gabungan Singapura, Kalimantan Utara (Sabah), dan Sarawak.

Kesultanan Brunei kendatipun ingin bergabung dengan Malaysia, namun tekanan oposisi yang kuat lalu menarik diri. Alasan utama penarikan diri adalah Brunei merasa memiliki banyak sumber minyak, yang nanti akan jatuh ke pemerintahan pusat (Malaysia).

Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno sejak semula menentang keinginan Federasi Malaya yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord. Presiden Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai “boneka Inggris” merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

Maka dibentuklah sukarelawan untuk dikirim ke negara itu setelah dikomandokannya Dwikora oleh Presiden Sukarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta.

Adalah Harun Said dan Usman Hj Mohd Ali, dua anggota KKO (Korps Komando Operasi -kini dikenal dengan Korps Marinir) yang diberangkatkan ke Singapura dengan menggunakan perahu karet. Tugasnya adalah menyabotase kepentingan-kepentingan Malaysia dan Singapura.

Berikut ini adalah catatan perjalanan dua Pahlawan Nasional itu sebagaimana tersimpan dalam catatan sejarah KKO.

Kisah Lengkap Kepahlawanan Usman dan Harun
Pahlawan Nasional; Usman dan Harun

Memasuki wilayah Singapura (Catatan: Ejaan dan penulisan banyak ditulis secara apa adanya dari sumber tulisan, yakni blognya Om Mimbar) 

Tanggal 8 Maret 1965 pada waktu tengah malam buta, saat air laut tenang, ketiga sukarelawan ini mendayung perahu. Sukarelawan itu dapat melakukan tugasnya berkat latihan-latihan dan ketabahan mereka. Dengan cara hati-hati dan orientasi yang terarah mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran, dan tugas mengamati sasaran-sasaran ini dilakukan sampa larut malam. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing. Atas kelihaiannya mereka dapat berhasil kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu sebaga Basis II di mana Usman dan Harus bertugas.

Pada malam harinya Usman memesan anak buahnya agar berkumpul kembali untuk merencanakan tugas-tugas yang harus dilaksanakan, disesuaikan dengan hasil penyelidikan mereka masing-masing. Setelah memberikan laporan singkat,mereka mengadakan perundingan tentang langkah yang akan ditempuh karena belum adanya rasa kepuasan tentang penelitian singkat yang mereka lakukan,ketiga sukarelawan di bawah pimpinan Usman, bersepakat untuk kembali lagi ke daerah sasaran untuk melakukan penelitian yang mendalam. Sehingga apa yangdibebankan oleh atasannya akan membawa hasil yang gemilang.

Di tengah malam buta, di saat kota Singapura mulai sepi dengan kebulatan dan kesepakatan, mereka memutuskan untuk melakukan peledakan Hotel Mac Donald. Diharapkan dapat menimbulkan kepanikan dalam masyarakat sekitarnya. Hotel tersebut terletak di Orchad Road sebuah pusat keramaian d kota Singapura.Pada malam harinya Usman dan kedua anggotanya kembali menyusuri Orchad Road.

Di tengah-tengah kesibukan dan keramaian kota Singapura ketiga putra Indonesia bergerak menuju ke sasaran yang ditentukan, tetapi karena pada saat itu suasana belum mengijinkan akhirnya mereka menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan tugas.

Setelah berangsur-angsur sepi,mulailah mereka dengan gesit mengadakan gerakan-gerakan menyusup untuk memasang bahan peledak seberat 12,5 kg.

Dalam keheningan malam kira-kira pukul 03.07 malam tersentaklah penduduk kota Singapura oleh ledakan yang dahsyat seperti gunung meletus. Ternyata ledakan tersebut berasal dari bagian bawah Hotel Mac Donald yang terbuat dari beton cor tulang, hancur berantakan dan pecahannya menyebar ke penjuru sekitarnya. Penghuni hotel yang mewah itu kalang kabut, saling berdesakan ingin keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Demikian pula penghuni toko sekitarnya berusaha lari dari dalam tokonya.

Beberapa penghuni hotel dan toko ada yang tertimbun oleh reruntuhan sehingga mengalami luka berat dan ringan. Dalam peristiwa ini, 20 buah toko di sekitar hotel itu mengalami kerusakan berat, 24 buah kendaraan sedan hancur, 30 orang meninggal, 35 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Di antara orang-orang yang berdesakan dari dalam gedung ingin keluar dari hotel tersebut tampak seorang pemuda ganteng yang tak lain adalah Usman.

Di tengah suasana yang penuh kepanikan bagi penghuni Hotel Mac Donald dan sekitarnya, Usman dan anggotanya dengan tenang berjalan semakin menjauh ditelan kegelapan malam untuk menghindar dari kecurigaan. Mereka kembali memencar menuju tempat perlindungan masing-masing.

Mc Donald House
Mc Donald House

Pada hari itu juga tanggal 10 Maret 1965 mereka berkumpul kembali. Bersepakat bagaimana caranya untuk kembali ke pangkalan. Situasi menjadi sulit, seluruh aparat keamanan Singapura dikerahkan untuk mencari pelaku yang meledakkan Hotel Mac Donald.

Melihat situasi demikian sulitnya, lagi pula penjagaan sangat ketat, tak ada celah selubang jarumpun untuk bisa ditembus. Sulit bagi Usman, Harun dan Gani keluar dari wilayah Singapura.Untuk mencari jalan keluar, Usman dan anggotanya sepakat untuk menerobos penjagaan dengan menempuh jalan masing-masing, Usman bersama Harun,sedangkan Gani bergerak sendiri.

(Baca update informasi tentang Gani yang misterius pada artikel: Tetap misterius, sosok Gani kawan seperjuangan Usman dan Harun di Singapura)

Setelah berhasil melaksanakan tugas, pada tanggal 11 Maret 1965 Usman dan anggotanya bertemu kembali dengan diawali salam kemenangan, karena apa yang mereka lakukan berhasil. Dengan kata sepakat telah disetujui secara bulat untuk kembali ke pangkalan dan sekaligus melaporkan hasil yang telah dicapai kepada atasannya.

Sebelum berpisah Usman menyampaikan pesan kepada anggotanya, barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan. Mulai saat inilah Usman dan Harus berpisah dengan Gani sampai akhir hidupnya.

Gagal kembali ke pangkalan  

Usaha ketiga sukarelawan kembali ke pangkalan dengan jalan masing-masing.Tetapi Usman yang bertindak sebagai pimpinan tidak mau melepas Harun berjalan sendiri, hal ini karena Usman sendiri belum faham betul dengan daerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah ini. Karena itu Usman meminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar ke pangkalan.

BACA JUGA:  Nekat sekali bule Jerman ini, selundupkan 239 gram kokain dalam perutnya saat piknik ke Bali

Untuk menghindari kecurigaan terhadap mereka berdua, mereka berjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang lain tidak ada hubungan sama sekali. Namun walaupun demikian tetap tidak lepas dari pengawasan masing-masing dan ikatan mereka dijalin dengan isyarat tertentu. Semua jalan telah mereka tempuh, namun semua itu gagal.

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhanSingapura, mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Kedua anak muda itu menyamar sebagai pelayan dapur.Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi di kapal tersebut.Tetapi pada malam itu, waktu kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, dia mengusir mereka dari kapal. Kalau tidak mau pergi dari kapalnya, akan dilaporkan kepada polisi. Alasan mengusir kedua pemuda itu karena mereka takut diketahui oleh Pemerintah Singapura dan kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 kedua sukarelawan Indonesia keluar dari persembunyiannya.

Usman dan Harun terus berusaha mencari sebuah kapal tempat bersembunyi supaya dapat keluar dari daerah Singapura. Ketika mereka sedang mencari-cari kapal, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh seorang Cina. Daripada tidak berbuat akan tertangkap, lebih baik berbuat dengan dua kemungkinan tertangkap atau dapat lolos dari bahaya. Akhirnya dengan tidak pikir panjang mereka merebut motorboat dari pengemudinya dan dengan cekatan mereka mengambil alih kemudi, kemudian haluan diarahkan menuju ke Pulau Sambu.

Tetapi apa daya manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.Sebelum mereka sampai ke perbatasan perairan Singapura, motorboatnya macet ditengah laut. Mereka tidak dapat lagi menghindari diri dari patroli musuh,sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 Usman dan Harun tertangkap dan dibawa ke Singapura sebagai tawanan.

Mereka menyerahkan diri kepada Tuhan, semua dihadapi walau apa yang terjadi, karena usaha telah maksimal untuk mencari jalan. Nasib manusia di tanganTuhan, semua itu adalah kehendak-Nya. Karena itulah Usman dan Harus tenang saja, tidak ada rasa takut dan penyesalan yang terdapat pada diri mereka.

Sebelum diadili mereka berdua mendekam dalam penjara. Mereka dengan sabar menunggu saat mereka akan dibawa ke meja hijau. Alam Indonesia telah ditinggalkan, apakah untuk tinggal selama-lamanya, semua itu hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.

Tabah sampai akhir

Proses Pengadilan. 

Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan dan mereka dengan tabah menunggu prosesnya. Pada tanggal 4 Oktober 1965 Usman dan Harun dihadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai hakim.

Usman dai Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court) Singapura dengan tuduhan :

1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah melanggar Control Area.

2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.

3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) kedua tertuduh Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu. Hal ini mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang (Prisoner of War).

Namun tangkisan tertuduh Usman dan Harun tidak mendapat tanggapan yang layak dari sidang majelis. Hakim telah menolak permintaan tertuduh, karena sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer. Persidangan berjalan kurang lebih dua minggu dan pada tanggal 20 Oktober 1965 SidangPengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman dan Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnyatiga orang sipil.

Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

Pada tanggal 6 Juni 1966 Usman dan Harun naik banding ke FederalCourt of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah danJ.J. Amrose.

Pada tanggal 5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun. Kemudian pada tanggal 17 Februari 1967perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London.

Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol  (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura.

Usaha penyelamatan jiwa kedua pemuda Indonesia itu gagal. Surat penolakan datang pada tanggal 21 Mei 1968.

Setelah usaha naik banding mengenai perkara Usman dan Harun ke Badan Tertinggi yang berlaku di Singapura itu gagal, maka usaha terakhir adalah untuk mendapat grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak. Permohonan ini diajukan pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatan kedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan.

Kedutaan RI di Singapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapat dijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan kedua sukarelawan Indonesia tersebut.

Pada tanggal 4 Mei 1968 Menteri Luar Negeri Adam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usaha yang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan. Pada tanggal 9 Oktober 1968, Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

Pemerintah Indonesia dalam saat-saat terakhir hidup Usman dan Harun terus berusaha mencari jalan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 Presiden Suharto mengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untuk menyelamatkan kedua patriot Indonesia.

Pada saat itu PM Malaysia Tengku Abdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkan permintaan Pemerintah Indonesia. Namun Pemerintah Singapura tetap pada pendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsip tertib hukum, Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap dua orang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap kedua mereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukum dengan orang tuanya dan sanak farmilinya. Permintaan ini juga ditolak oleh Pemerintah Singapura yang tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun.

Pesan terakhir

Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, di mana Pemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepat pukul 06.00 pagi.

BACA JUGA:  Sial, mahasiswa iseng ini terjepit patung vagina raksasa

Dunia merasa terharu memikirkan nasib kedua patriot Indonesia yang gagah perkasa, tabah dan menyerahkan semua itu kepadapencipta-Nya.

Seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan nasib kedua patriot ini. Demikian juga dengan Pemerintah Indonesia, para pemimpin terus berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab merupakan masalah nasional yang menyangkut perlindungan dan pembelaan warga negaranya.

Satu malam sebelum pelaksanaan hukuman, hari Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol ((G) Gani Djemat SH, dapat berhadapan dengan Usman dan Harun di balik terali besi yang menyeramkan pada pukul16.00. Tempat inilah yang telah dirasakan oleh Usman dan Harun selama dalam penjara dan di tempat ini pula hidupnya berakhir.

Para utusan merasa kagum karena telah sekian tahun meringkuk dalam penjaradan meninggalkan Tanah Air, namun dari wajahnya tergambar kecerahan dan kegembiraan, dengan kondisi fisik yang kokoh dan tegap seperti gaya khas seorang prajurit KKO AL yang tertempa. Tidak terlihat rasa takut dan gelisah yang membebani mereka, walaupun sebentar lagi tiang gantungan sudah menunggu.

Keduanya segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan.

Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya. Hanya satu-satunya pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Sebagai manusia beragama, Brigjen Tjokropranolo mengingatkan kembali supaya tetap teguh, tawakal dan berdoa, percayalah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum, dan Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya kepadanya. Pertemuan selesai, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat

Menjalani Hukuman Mati

Pada saat ketiga pejabat Indonesia meninggalkan penjara Changi, Usman danHarun kembali masuk penjara, tempat yang tertutup dari keramaian dunia.Usman dan Harun termasuk orang-orang yang teguh terhadap agama.

Mereka berdua adalah pemeluk agama Islam yang saleh. Di alam yang sepi itu menambah hati mereka semakin dekat dengan pencipta-Nya. Karena itu empat tahun dapat mereka lalui dengan tenang. Mereka selalu dapat tidur dengan nyenyaknya walaupun pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan kedua pemuda ini dan dengan keharuan ikut merasakan akan nasib yang menimpa mereka.Sedangkan Usman dan Harun dengan tenang menghuni penjara Changi yang sepi dan suram itu.

Mereka menghuni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tembok, sedangkan di luar para petugas terus mengawasi dengan ketat. Usman dan Harun yang penuh dengan iman dan taqwa dan semangat juang yang telah ditempa oleh Korpsnya KKO AL menambah modal besar untuk memberikan ketenangan dalam diri mereka yang akan menghadapi maut.

Di penjara Changi, pada hari itu udara masih sangat dingin suasana mencekam,tetapi dalam penjara Changi kelihatan sibuk sekali. Petugas penjara sejak sore sudah berjaga-jaga, dan pada hari itu tampak lebih sibuk lagi.

Di sebuah ruangan kecil dengan terali-terali besi rangkap dua Usman dan Harun benar-benar tidur dengan pulasnya. Meskipun pada hari itu mereka akan menghadapi maut, namun kedua prajurit itu merasa tidak gentar bahkan khawatir pun tidak.

Dengan penuh tawakal dan keberanian luar biasa mereka akan menghadapi tali gantungan.Sikap kukuh dan tabah ini tercermin dalam surat-surat yang mereka tulis pada tanggal 16 Oktober 1968, yang tetap melambangkan ketegaran jiwa dan menerima hukuman dengan gagah berani.

Betapa tabahnya mereka menghadapi kematian, hal in dapat dilihat dari surat-surat mereka yang dikirimkan kepadakeluarganya.

Sebagian Surat Usman yang berbunyi sebagai berikut:

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan maka perlu anak anda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda sekeluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas anakanda telah diputuskan pada 17 Oktober 1968, hari Kamis 24 Rajab 1388.

Sebagian isi surat dari Harun sebagai berikut:

Bersama ini adindamu menyampaikan berita yang sangat mengharukan seisi kaum keluarga di sana itu ialah pada 14-10-1968 jam 10.00 pagi waktu Singapura rayuan adinda tetap akan menerima hukuman gantungan sampai mati.

Menghadapi Tiang Gantungan

Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara,kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Sebenarnya tanpa diperintah ataupun dibangunkan Usman dan Harun setiap waktu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersujud kepadaTuhan Yang Maha Esa. Karena sejak kecil kedua pemuda itu sudah diajar masalah keagamaan dengan matang.

Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali.

Dalam keadaan, lumpuh dan tangan tetap diborgol, Usman dan Harun dibawa petugas menuju ke tiang gantungan.Tepat pukul 06.00 pagi hari Kamis tanggal 17 Oktober 1968 tali gantungan dikalungkan ke leher Usman dan harun.

Pada waktu itu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengetahui bahwa kedua prajurit Indonesia digantung batang lehernya tanpa mengingat segi-segi kemanusiaan menundukkan kepala sebagai tanda berkabung. Kemudian mereka menengadah berdoa kepada Illahi semoga arwah kedua prajurit Indonesia itu mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Mereka telah terjerat di ujung tali gantungan di negeri orang, jauh dari sanak keluarga, negara dan bangsanya. Mereka pergi untuk selama-lamanya demi kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air tercinta.

Eksekusi telah selesai, Usman dan Harun telah terbujur, terpisah nyawa dari jasadnya. Kemudian pejabat penjara Changi keluar menyampaikan berita kepada para wartawan yang telah menanti dan tekun mengikuti peristiwa ini, bahwa hukuman telah dilaksanakan. Dengan sekejap itu pula tersiar berita ke seluruh penjuru dunia menghiasi lembaran mass media sebagai pengumuman terhadap dunia atas terlaksananya hukuman gantungan terhadap Usman danHarun.

BACA JUGA:  Jika Pilpres digelar hari ini, elektabilitas Prabowo-Hatta kalahkan Jokowi-JK di 8 medan perang

Bendera Merah Putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung. Sedangkan masyarakat Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondong datang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karangan bunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.

Begitu mendapat berita pelaksanaan eksekusi, Pemerintah Indonesia mengirim Dr. Ghafur dengan empat pegawai Kedutaan Besar RI ke penjara Changi untuk menerima kedua jenazah itu dan untuk dibawa ke Gedung Kedutaan Besar RI untuk disemayamkan. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan dari penjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnya dari Pemerintah Singapura.

Pemerintah Indonesia mendatangkan lima Ulama untuk mengurus kedua jenazah di dalam penjara Changi. Setelah jenazah dimasukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan Bendera Merah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk diselubungkan pada peti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara. Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI.

Mendapat penghormatan terakhir dan Anugerah dari Pemerintah  

Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masya rakat Indonesia di KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang di mana telah menunggu pesawat TNI-AU yang akan membawa ke Tanah Air.

Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerah Kalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS dan Paraku. Waktu Presiden diberitahukan bahwa Pemerintah Singapura telah melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun, maka Presiden Suharto menyatakan kedua prajurit KKO-AL itu sebagai Pahlawan Nasional.

Pada pukul 14.35 pesawat TNI-AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih yang dibawa dari Jakarta.

Padahari itu juga, tanggal 17 Oktober 1968 kedua Pahlawan Usman dan Harun telah tiba di Tanah Air. Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia menjemput kedatangannya dengan penuh haru dan cucuran air mata. Sepanjang jalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang ingin melihat kedatangan kedua pahlawannya, pahlawan yang membela kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air.

Setibanya di lapangan terbang Kemayoran kedua jenazah Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI  R. Muljadi dan seterusnya disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada upacara penyerahan kedua jenazah Pahlawan ini menimbulkan suasana yang mengharukan. Di samping kesedihan yang meliputi wajah masyarakat yang menghadiri upacara tersebut, di dalam hati mereka tersimpan kemarahan yang tak terhingga atas perlakuan negara tetangga yang sebelumnya telah mereka anggap sebagai sahabat baik.

Pada barisan paling depan terdiri dari barisan Korps Musik KKO-AL yang memperdengarkan musik sedih lagu gugur bunga, kemudian disusul dengan barisan karangan bunga. Kedua peti jenazah tertutup dengan bendera Merah Putih yang ditaburi bunga di atasnya. Kedua peti ini didasarkan kepada Inspektur Upacara Laksamana TNI R. Mulyadi yang kemudian diserahkan kepada Kas Hankam Letjen TNI Kartakusumah di Aula Hankam.

Di belakang peti turut mengiringi Brigjen TNI Tjokropranolo dan Kuasa UsahaRI untuk Singapura Letkol M. Ramli yang langsung mengantar jenazah Usman dan Harun dari Singapura. Suasana tambah mengharukan dalam upacara ini karena baik BrigjenTjokropranolomaupun Laksamana R. Muljadi kelihatan meneteskan air mata.

Malam harinya, setelah disemayamkan di Aula Hankam mendapat penghormatan terakhir dari pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil. Jenderal TNI Nasution kelihatan bersama pengunjung melakukan sembahyang dan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.

Penyambutan Usman dan HarunTepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan PasarMinggu dan akhirnya sampai Kalibata.

Sepanjang jalan yang dilalui antara Merdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepala sebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turut mengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, para Menteri Kabinet Pembangunan.

Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI, Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemudadan pelajar serta masyarakat. Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya.

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasana bertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dan Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan BintangSakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

(Copyright by : Korps Marinir via blog Om Mimbar)

Usman Janatin bin H. Ali Hasan (lahir di Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 18 Maret 1943 – meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 pada umur 25 tahun) adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinyaKonfrontasi dengan Malaysia.

Tohir bin Said. (Lahir di Pulau Bawean tanggal 4 April 1943): Anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang kemudian terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.

Baca juga yang ini:

Ditulis oleh Munzalan Mubarakan

Simomot adalah situs informasi bermanfaat untuk keluarga Indonesia. Kami menyajikan info seputar bayi dan balita, bisnis, dan rumah tangga.

Comments

Leave a Reply
  1. Setelah melakukan perbuatan layaknya teroris, tetapi malah dianggap pahlawan. Jelas2 di agama kita melarang kita untuk melukai apalagi menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah. Aneh sekali orang seperti mereka di dalam gelap menghilangkan nyawa orang yang tidak tahu urusan suatu negara akhirnya meninggal begitu saja. Saya minta maaf jika ada kata2 saya yang menyinggung tapi ini hanya opini saya. Saya lebih menghargai orang yang membela negara tercinta jika dalam keadaan terjajah. Tapi saya tetap mendoakan agar Usman dan Harun diterima oleh Yang Maha Kuasa, segala kesalahan semoga diampunkan hanya karena perintah dari atasannya kala itu.

    • Ya saya mengerti anda. Anda berkata demikian karena sedikit mengerti tentang geopolitik dan intelijen. Pernahkah berpikir, digedung tersebut bercokol para pembuat keputusan yang mengganggu stabilitas Indonesia? Karena Komando Dwikora itu ada karena pembentukan Malaysia dan ada efek terhadap stabilitas Indonesia, pastinya dukungan terhadap pemberontak di Kalimantan.
      Seperti Amrozi mengebom bar di Bali, kenapa yang itu ga yang lain? Dari korban kelihatan kan? Ausie atau tentara Ausie jadi target?..mereka salah satu pemberi dukungan penghancuran jaringan mereka.
      Ini sebagian saja..masih banyak lagi

    • @Ahmad : anda tidak mengerti ttg “Tugas negara”.. ya mungkin krn anda kurang patriotik dan anda org Sipil..beda dg beliau2 (Usman dan Harun), mrk Militer, mengerti tugas negara dan situasinya dlm kondisi Perang..
      Yg anda maksud tentu dlm kondisi damai, , yaa tentunya salah membunuh/teror dll dlm kondisi damai.
      Dlm kondisi Perang, membunuh atau dibunuh, dan teror yg dinamakan pshywar, bisa dilakukan.. (masa perang mau salam2an dan cipika – cipiki…?)

      Sikon nya tolong dibedakan deh…

    • Salut kpd anda (sdr. Ahmad) yg tlah beropini LUGAS TANPA JIWA PATRIOTIK SEDIKITPUN dan seakan akan anda adalah orang yang paling terhormat, orang yg pling tahu sgalanya di bumi Indonesia

    • Buat semuanya yang komentarin ahmad, saya informasikan bahwa ahmad yang disini bukan muslim, dia sering komen dibanyak media memancing isu sara. Dia sengaja memakai nama ahmad untuk mendiskreditkan islam. sekali lagi jangan ditanggapi. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr.wb.

      • hei kau riski, baca sekali lagi apakah opini saya ada mediskreditkan suatu agama? jangan menuduh sembarangan ya! dimana letak kata2 opini saya yang memancing isu sara?? hanya orang bodoh yang membawa2 suatu topik dengan nama agama. dan sekali lagi buktikan kata2 mu kalau saya komen di banyak media?

  2. Dia bukannya troris,dia menunjukan bawasanya dia mampu masuk ke daerah musuh Dia seorang Prajurit ,Kami yakin bahwasanya Prajurit-prajurit yg sekarang Lebih berani membela Bangsa dan Negara ,Supaya Negara tetangga tahu ke beradaan Dengan Dua orang Prajurit Usman dan Harun ,Dunia tahu bawahsanya NKRI Harga mati. Jack ptr.

    • Smua pada koment sanjungan,cmn si ahmad aja… Kaya nya bukan indo asli..
      Bilang aneh,bilang kaya teroris…
      Persis kaya pemerintah singapura bilng nya gt.

  3. terharu membaca kisah mereka…sya jg ga setuju dgn koment yg blg mrk teroris..mrk bertiga tepatnya diutus negara sbg prajurit yg bertugas sbg bahagian dlm membela kedaulatan negara….beda dgn teroris lho yg bergerak sendiri

  4. Usman dan Harun Pahlawan bangsa…..Wahai pemerintah ..Tunjukkan kepada dunia …terlebih negara tetangga…jangan menginjak harga diri NKRI…..jangan lemah….

  5. bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya….. kita adalah INDONESIA….. kita adalah bangsa yang besar…. jangan terhasut oleh kaka-kata mereka… coba lihat dan bandingkan … betapa besarnya kita di banding mereka.. tetap maju INDONESIAKU…

  6. Tindakan Usman & Harun itu sudah benar, layak disebut pahlawan. Dalam perang tidak ada kata membunuh orang yang tidak berdosa, Usman & Harun juga sudah berusaha mengurangi jumlah korban dengan membom pada malam hari, karena tujuan awal mereka adalah membuat kekacauan. Harusnya Presiden Sukarno mengirim pasukan Khusus untuk membebaskan mereka, atau menyatakan perang secara terbuka kepada Singapura. Menurut saya, prajurit yang loyal harus diselamatkan, sedangkan prajurit yang tidak patuh kepada atasannya harus dimusnahkan. Karena di negara lain saat perang ada oknum pasukan tentara yang menjalankan operasi tanpa persetujuan atasannya, seluruh pasukan yang terlibat dibunuh tanpa ampun, karena itulah susunan perintah, jika pimpinan katakan tidak, maka jawaban sampai kapanpun tidak. Begitu juga dengan Usman & Harun, walaupun mereka hanya berdua dikirim, kalau pimpinan katakan serang Singapura, maka sampai mati itulah targetnya. Kalau Pemerintah Singapura protes dengan penamaan KRI Usman & Harun, singapura tidak pantas mencampuri urusan militer Indonesia. Nurdin M top & DR ashari saja dikirim ke Indonesia apakah Indonesia pernah protes. atau ketika PARA KORUPTOR lari & menyembunyikan uang korupsi di SIngapura, apakah ada protes. atau tidak adanya perjanjian Extradisi dari Singapura terhadap penjahat, apakah ada protes. atau ketika pulau-pulau terluar Indonesia diangkuti tanahnya buat program reklamasi pantai Singapura, apakah ada protes. sedangkan semakin besar Singapura maka jarak wilayah perbatasan akan semakin sedikit merugikan Indonesia. Jika Singapura tidak senang & menyatakan perang, saya akan membantu, saya pastikan Negara Singapura hanya tinggal pulau tanpa penduduk, kenapa Wilayahnya dataran rendah. dan

    • setuju…mestinya indonesia mengirimkan pasukan khusus untuk misi pembebasan mereka…atau sekalian perang saja di waktu itu….tanggung amat ya….kan udah menyerukan operasi dwikora…gimana seh…ini mah namanya operasi tanggung…prajurit yg loyal kayak gitu mah harus dilindungi dan di selamatkan bagaimana pun caranya…mestinya prajurit yaa.. kayak gini nih….loyal setia, passion nya luar biasa…patut diacungi jempol…top markotop…

      • maap bozz…mo ingetin nih, waktu itu situasi dlm negeri sendiri lagi ada issue dewan jendral, pemberontakan PKI…jd konsentrasinya teralihkan pada peralihan kekuasaan / komando…..maap kira” begitu, klo salah mohon maap lagi bozz

  7. salut kepada usman dan harum, nama mereka pantas di abadikan.

    btw kisah salah satu prajurit selain usman dan harum bagai mana ya? selamat atau bagai mana?

  8. Saya sekarang aja mau ditugasin hancurin singapura, kalau itu memang harus dilakukan .
    semoga Usaman dan Harun mendapat tempat yang layak di Sisi Nya Amin

  9. nb: khusus untuk HENDRO: bagaimana jika kita bertemu untuk menguji pengetahuan agama anda dan saya? dan kalau boleh saya tahu anda belajar agama dimana?? otodidak atau jangan2 tidak mengerti apapun ?
    dan khusus buat teman2 yang lain terima kasih atas opini nya masing2…dimanapun setiap keputusan ataupun setiap jawaban pasti ada pro dan kontra, tapi bagaimanapun menghilangkan nyawa seorang manusia apalagi sampai puluhan apapun alasannya tetap salah. karena cuma ALLAH yang berhak.

    • Ucapan anda seolah anda tahu segalanya. Walaupun memang benar demikian sebaiknya anda tetap rendah hati karena segala puji hanya untuk Allah. Memang manusia tidak berhak mengambil nyawa sesamanya, tapi perlu anda ketahui bahwa yg bisa menilai siapa yg lebih baik derajatnya hanya Allah. Bisa saja anda tidak lebih baik dari Usman dan Harun. Semoga anda bisa menerima yg positifnya dan saya minta maaf apabila perkataan saya menyinggung. Jangan karena pendapat kita semua disini berbeda membuat lebih banyak perpecahan. Terima kasih.

    • biasanya orang yg semakin berisi ilmunya akan semakin tenang dan akan menjahui kecongkaan/kesombongan……

  10. Khusus untuk Hadi yang tidak terhormat: saya cuma bisa jawab, walau saya tidak mengenal mas hadi tapi dari kata2 anda saya sudah tahu anda tidak mengerti apapun . apapun itu! apalagi agama kita..maaf jika ada kata2 yang kurang

  11. hmm….3 orang meninggal bukan 30….
    waktu meledak bom adalah 3.07 PM atau 15.07, jadi sore hari bukan dini hari atau malam hari.
    CMIIW

  12. Aahh.. singapore emang brengsek..! Ttg mahasiswa pandai kita yg mati terbunuh disana, apa hukuiman buat pembunuhnya???? Malah diPeti Es kan.. !! Dibilang bunuh diri kan?!?

  13. Buat yg kurang tau soal militer gk usah sok tau..sebagai negara yg besar. Kita harus menghargai jasa2 pahlawannya.gk usah dikait2kan dgn agama,namanya perang itu yg dipilih hanya membunuh atw dibunuh..sekian

  14. Apapun anggapan negara lain thd kedua pahlawan kita itu, Usman dan harun adalh Patriot sejati Bangsa indonesia. Telah gugur pahlawanku untuk tunaikan tugas janji Bakti. Gugur satu tumbuh seribu patriot Bangsa!

  15. Semuanya benar….pendapat masing – masing ibarat cara pandang kita terhadap sebuah dadu. ada yang melihat dari sisi yang satu ada yang melihat dari sisi yang lain. Mohon maaf sebelumnya. kita harus dapat memisahkan urusan Agama dan urusan pemerintahan. secara prinsip kemiliteran usman dan Harun adalah prajurit yang loyal dan cinta tanah airnya. Buktinya patuh dan terima perintah atasan apapun resikonya demi berjuta nyawa di indonesia. Hal tersebut juga dilakukan dengan pertimbangan yang akan mengganggu stabilitas negara indonesia. Soal Benar atau salah akan keputusan pengutusan mereka saat itu bukan di dunia ini penghakimannya. Ada hakim dari segala hakim yang akan memutuskannya nanti. Secara pandangan manusiawi dan sebagai warga negara indonesia…saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada usman dan harun. Semoga keluarga yang ditinggalkan mereka dilindungi Allah. Mereka berbuat demi negaranya bukan demi kepentingannya sendiri. Usman dan Harun sangat pantas disebut Pahlawan. Kalo tidak ada mereka….yang comen bacul disini dan kita semua tidak tau seperti apa yang akan terjadi berikutnya. Hal tersebut menjad shock terapi buat negara yang mau mengancam Indonesia. terbukti 2 orang saja yang diutus bisa buat geger negara lain. Bravo Usman dan Harun.

    • Da informasi yg benar dan da informasi yg tdak benar.
      Sayang informasinya banyak yg miss, orang2 sandi negara dan intelijen pda saat soekarno sngat paham kjdian ini.
      Baik sya bka sdkit tntang kjdian trsebut.
      Sebelum tahun trsebut, sbnarnya dahulu negara malaysia disebut negara malaka, pada saat itu da pmberontakan bsar2n di singapura, yg dipimpin oleh Lim Quan Yu yaitu asalnya warga negara Indonesia, (jawa(semarang)-china). Karena krja orang china bagus di negara malaya, akhirnya raja malaya mengangkat Lim Quan Yu menjadi perdana mentri yg dikenal skrang singapura. Stlah diangkat diam2 Lim Quan Yu ini melakukan pemberontakan yg trnyta dibacking oleh negara Inggris, dgan prjanjian bahwa :
      – Inggris menjadi orang prtama di singapore
      – orang china menjadi warga negara ke-2
      – orang melayu menjadi warga negara ke-3
      – orang india menjadi warga negara ke-4
      – dan memiliki jalur perdagangan berbagi hasil.
      Akhirnya krna banyaknya orang china di singapore, akhirnya krna sbagai prdamaian, malaysia melepas singapore dan digantikan oleh sabah dan sarawak di kalimantan.
      Pada saat itupun trjadi di Indonesia, krna Soekarno trpancing. Sebenarnya muh. Hatta sdah mmperingati Soekarno tetapi oleh Soekarno tidak dihiraukan. Akibatnya Soekarno ditekan Cina agar komunis bisa masuk. Karena itulah badan Intelijen dan kode sandi Negara merasa marah kepada keputusan Soekarno yg akhirnya sbgaian anggota trsebut pindah ke luar negeri.
      Pada 1967 lah dimulailah lagi invasi besar2an oleh China ke negara malaysia di pimpin oleh Lim Quan Yu keturunan China-jawa, mereka merencanakan penghabisan besar2an trhadap raja-raja malaysia ditambah desakan komunis kepada Soekarno untuk membantu Invasi mereka, yg dikirimnya oleh Soekarno tentara Indonesia ke malaysia, karena kebaikan dari malaysia trsebut, tentara Indonesia hanya di tangkap oleh malaysia, tdak di bunuh, karena orang melayu malaysia juga mengerti masalah iru berasal dari Soekarno, alias ikut melindungi aib dari Soekarno.
      Pada saat itulah terjadi peperangan, dan turunlah pendekar2 malaysia, yg selendangnya bisa terbang, para sniper China trsebut sudah mengarahkan senjata trsebut kepada para Raja dan alhamdulillah karena prtolongan Allah lewat pndekar2 trsebut, raja berhasil di selamatkan. Tentara komunis china trsebut brhasil di pungkul mundur dan tentara china malaysia pun yg ikut mmbantu di pecat. Sejak itulah Malaysia tdak mmberikan China menjadi PNS di malaysia, karena sudah berkali2 melakukan pemberontakan, dan sampai sekarang China malaysia masih membuat rusuh di malaysia, dan di Indonesia rusuh, mengadu domba, agar orang melayu malaysia dan pribumi Indonesia berkelahi.

      Catatan admin simomot.com:

      Komentar dari Huah ini sudah diedit seperlunya demi menghilangkan kata-kata yang menurut kamu tidak pantas dilontarkan secara terbuka. Terima kasih.

  16. bravo pahlawanku semoga mendapat tempat yang terbaik sorgaMU ya ALLAH, kedua prajurit KKO AL hanya menjalankan perintah atasan ampunkanlah dosanya

  17. .
    Sdlah j angan diributkan ,masing2 punya sdut pandang , indonesia menggagab usman harun sbg patriot . .
    Singapura menyebut usman harun sebagai penduduk singapura sbg teroris. Ini semua hanya beda kepentingan, sehingga beda sudut pandang. Sdlah jangan di maslalhkan lagi
    2 prajurit kko adalah prajurit sejati. Berhasil tidak sanjung, mati tidak dicari, itulah prajurit spcial force sejati. Kko telah terbukti, dalam sejarah tanpa rekayasa.

  18. Sudalah .jangan diperpanjang. Usma dan harun untuk kita ambil teladan, itulah prajurit hebat .kko pasukan yg mampu menyusup ke negara lain .hanya saja waktu itu didalam negeri terjadi perebutan kekuasaan. Sehingga terabaikan.banyak rekayasa,cerita,langkah dansbg.

  19. Indonesia berbeda dengan singapura.
    Heran dengan pemerintahan saat ini
    Saya yakin kalau tni sudah geram dengan ulah tetangga kita… tapi kenapa pemerintah malah kurang kritis? Dan semata mata membela anak bangsa padahal anak anak bangsa siap untuk menyerahkan juwa dan raga demi kehormatan bangsa INDONESIA semangat ganyang singapura.

  20. Kita bangsa yang besar yang bernama INDONESIA jangan banyak alasan kl singapura ataupun malaysia tidak setuju tindakan kita… maka wajib hukumnya kita ganyang mereka.
    NKRI harga mati

  21. Usman dan Harun adalah pahlawan yang gagah berani. dimana nurani kita,sementara singapura melarang kapal kri dengan nama kri Usman Harun.padahal itu adalah pahlawan kita dari NKRI ini.apa maunya singapura ini lagi.sejarah takkan pernah dapat di lupakan oleh segenap warga negara indonesia.karena usman harun adalah milik negeri ini yakni Indonesia tercinta….???Merdekaaaaa

    • gani masih hidup waktu itu, malah dia yang nemenin kolonel a ramly buat bertemu usman dan harus saat di jeruji

  22. usman harun hanya menyidrai 30an orang,yang mati cuma berapa…..itu bisa dihukum mati…sementara singapura yang melindungi koruptor telah menyengsarakan jutaan masarakat indonesia,perlu kita ketahui..singapur adalah negara yang menolak kerjasama extradisi dg indonesia….

  23. andai dulu soeharto menyatakan perang mungkin terjadi sejarah dimana kita menang yah !! sedih banget baca nya .. sekarang kayanya juga kalo kita perang atau ada maslah dengan singapur dia siap menyatakan perang ( mungkin ) ku harapa pemerintah presiden nanti lebih tegas lagi .sebagai wanita terharu banget

  24. Usman Harun adalah pahlawan bagi indonesia, Singapura tidak punya hak keberatan dengan nama KRI itu..

  25. Sedih bacanya…Gmn kerasnya perjuangan mereka untuk Indonesia sampai titik darah penghabisan …Untuk generasi selanjutnya tetap tanamkan jiwa kecintaan terhadap tanah air kita..tanah airku Indonesia. Dengan menegenalkan mereka tentang sejarah dan pahlawan Indonesia…ditunggu kunjungan baliknya..salam perdana …

  26. wajar mereka dianggap terrorist oleh singapore karena mereka membunuh rakyat singapore yang tidak bersalah. seharusnya yg disalahkan yg mengutus mereka yaitu pres. soekarno

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.

Loading…

0

Diskusi

0 comments

Model tak lazim - Daphne Selfe

Ini dia 9 foto model paling aneh bin unik di dunia

KTP dan SIM unik: Dijamin Anda belum punya !