Jokowi kritik habis TV, Tompi pun ogah tampil dan biang keroknya memang TransTV dan Trans7

Jokowi menilai tayangan acara televisi (TV) akhir-akhir ini banyak yang tidak mendidik. Kondisi penyiaran televisi seperti itulah yang juga menyebabkan penyanyi jazz, Tompi, enggan banyak muncul di acara televisi. Dan ternyata juga, bahwa TransTV dan Trans7-lah yang selama ini paling bandel atas teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Nah….

“Semua orang tahulah, jaman sekarang acara TV yang bisa memberikan pendidikan yang mana sih? Tunjukkan ke saya. Acara apa? Berita juga jelek-jelek terus saja,” kata Jokowi di Balaikota, Rabu.

Menurutnya, acara televisi yang tidak berkualitas, terutama berita yang berisi hal-hal buruk bisa berpengaruh pada psikologis generasi muda.”Pesimisme anak-anak muncul gara-gara acara dan berita seperti itu. Apalagi acara-acara debat di TV itu, itu bukan budaya kita. Budaya kita kan mengajarkan etika sopan santun,” katanya.

Seharusnya, menurut Jokowi, acara televisi banyak memberi pembelajaran budaya pada generasi muda sehingga dapat menumbuhkan nasionalisme pada mereka. “Saya ingat dulu kalau mau masuk kelas harus ucap assalamualaikum, harus berdoa sebelum belajar, lalu nyanyi Indonesia Raya. Sekarang sepertinya itu sudah hilang,” katanya seperti dikutip Antara.

Jokowi mengatakan budaya sopan santun dan rasa nasionalisme harus kembali ditumbuhkan pada generasi muda Indonesia. “Kalau tidak, kita akan seperti ini terus. Demo teriak-teriak, menghujat, mengejek, mencemooh. Kaya kita bukan orang Indonesia aja. Di budaya kita tidak ada yang seperti itu,” katanya.

Tompies enggan nampil

Tompi
Tompi

Nah, gara-gara acara televisi Indonesia yang seperti itulah penyanyi jazz, Tompi, merasa malas dengan perkembangan acara televisi saat ini. Hal itu menjadi alasan mengapa pelantun Menghujam Jantungku itu enggan tampil di layar kaca belakangan ini.

“Iya, sudah jarang banget masuk televisi, malas. Kalau lihat isi acara tv lebih kayak buat pembantu kayaknya. Makanya saya malas masuk tv,” kata Tompi ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (19/3/2014) seperti dilansir Liputan6.

“Saya agak keras ya sepertinya, bukan saya anggap rendah pembantu. Tapi pembantu kita lebih sering nonton tv, dan program tv yang ada sekarang lebih untuk ke mereka,” sambungnya.

Penyanyi yang juga dokter ini menilai, beberapa program yang tayang di televisi bukan tidak berkualitas. Hanya saja, membuat masyarakat menjadi tidak cerdas dengan beberapa tayangan yang lebih mengedepankan kesenangan saja.

“Saya melihat, semakin bikin orang nggak pintar acara tv sekarang. Bukannya nggak berkualitas, tapi gitu-gitu saja. Kita yang melihat kan juga jadi malas, orang dibuat nyaman dengan segmen yang seperti itu (hiburan saja),” sindir pria kelahiran Aceh, 22 September 1978 tersebut.

Oleh karena itu, Tompi berharap agar para stasiun televisi menyuguhkan tontonan yang mampu mendidik dan mencerdaskan. “Ya, harusnya yang mencerdaskan, seperti acara discovery misalnya. Kita lihat saja hampir semua tv nggak ada produk untuk tontonan anak, program anak lebih banyak di tv kabel saja,” ketusnya.

Televisi paling bandel

Bagaimana sikap Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sendiri menyikapi hal itu? Konon, dalam rangka memberikan pelayanan terbaiknya untuk masyarakat, KPI telah melakukan evaluasi atas kinerja mereka selama beberapa bulan terakhir. Selama kurun waktu 7 bulan terakhir mulai Agustus 2013 hingga Februari 2014 KPI merangkum berbagai teguran dan sangsi yang telah mereka berikan untuk stasiun TV Indonesia.

KPI mengaku banyak menerima aduan dari masyarakat untuk acara-acara televisi yang dinilai melanggar aturan dan norma. Total ada 62 sanksi yang dikeluarkan KPI untuk acara-acara TV di Indonesia. KPI mengungkapkan stasiun televisi yang paling banyak mendapat sanksi adalah Trans TV dengan 14 kali disusul kemudian Trans7 yang mendapat 9 kali.

“Sanksi tersebut terdiri dari: teguran pertama sebanyak 43 kali, teguran kedua sebanyak 13 kali, penghentian sementara 4 kali, pembatasan durasi 2 kali,” bunyi pernyataan KPI. “Di samping itu KPI juga memberikan peringatan sebanyak 24 kali, surat edaran 16 kali, dan permintaan klarifikasi sebanyak 44 kali.”

Selain Trans TV dan Trans7, sanksi atau teguran itu juga diterima oleh RCTI sebanyak 8 kali, ANTV dan Global 6 kali, SCTV dan MNCTV 4 kali. Kemudian juga ada Metro TV, TVRI dan TV One 3 kali, serta Indosiar sebanyak 2 kali.

Menurut KPI sanksi atau teguran yang diterima stasiun-stasiun TV ini karena masih banyak yang menayangkan acara bermuatan tak pantas. Sejumlah acara TV masih menampilkan tayangan mengandung candaan kasar, pornografi, kekerasan, hipnotis dan muatan-muatan lainnya yang melanggar peraturan.

KPI pun berharap ke depannya, stasiun-stasiun televisi tersebut akan melakukan perbaikan. “Terhadap program-program yang bermuatan tersebut di atas, KPI Pusat minta agar lembaga penyiaran segera melakukan perbaikan,” ujar KPI.

Baca artikel terkait:

 

5 Comments

  1. Benar sekali! Acara sekarang sukanya joget2 sm bagibagi hadiah doang.

    Boleh kunjungi blog saya di hangume.wordpress.com

  2. budget untukbuat program tv kayak gitu murah kali yah, tapi dapet untung gede……harusnya edukasinya lebih banyak….huhuhhhh

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.