Dewan Pers sebut Tabloid Obor Rakyat bukan produk jurnalistik

Beredarnya Tabloid Obor Rakyat yang habis-habisan menyerang pasangan Capres Jokowi-JK mendapat penilaian dari Dewan Pers. Dewan Pers menyimpulkan, Tabloid Obor Rakyat tak lebih dari kampanye hitam belaka, bukan produk jurnalistik.

Selain menilai bahwa tabloid tersebut bukan poduk jurnalistik, Dewan Pers juga mengkhawatirkan, beredarnya tabloid itu justru akan meningkatkan angka golongan putih (Golput).

Koran Obor Rakyat berisi tentang pembusukan Capres Jokowi banyak disebar di masjid-masjid di Kabupaten Pamekasan.
Koran Obor Rakyat berisi tentang pembusukan Capres Jokowi banyak disebar di masjid-masjid di Kabupaten Pamekasan. KOMPAS.com/Taufiqurrahman

Dilansir dari Kompas.com, Ketua Komisi Hukum Dewan Pers Stanley Adi Prasetyo menegaskan, tabloid Obor Rakyat bukan produk jurnalistik sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang, yakni Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Tabloid tersebut memuat konten kampanye hitam terhadap calon presiden Joko Widodo atau Jokowi.

“Kami telah menyimpulkan, tabloid itu bukan produk jurnalistik sebagaimana yang tercantum di dalam UU Pers,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/6/2014) siang.

Dasar kesimpulan itu, kata Stanley, bisa dilihat dari unsur-unsur dalam tabloid, mulai dari konten yang tidak berdasarkan pada kode etik dan konfirmasi, tidak mempunyai badan hukum yang jelas, hingga mencantumkan alamat fiktif.

Mantan wartawan surat kabar Surya tersebut menyatakan khawatir jika kampanye hitam itu dapat berimbas pada meningkatnya golongan putih (Golput) dalam Pemilu Presiden 9 Juli 2014.

“Harusnya suasana yang dibangun adalah gali visi-misi capres, sekaligus mengeksplorasi kemauan masyarakat, bukan malah kampanye hitam,” lanjut Stanley.

Sebelumnya diberitakan, sebuah tabloid atas nama Obor Rakyat beredar di sejumlah pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Isi tabloid berupa hujatan terhadap Jokowi-JK tanpa menyebut narasumber dan penulis berita.

Terkait:

Dalam tabloid edisi kedua itu, berita utamanya mengangkat topik tentang “1001 Topeng Pencitraan”. Di dalamnya masih sama seperti edisi pertama yang menghujat Jokowi. Informasi yang dihimpun menyebutkan, sepuluh eksemplar tabloid tersebut terkirim Senin, 9 Juni 2014. Tabloid itu dikirim dengan alamat pondok pesantrennya dan diterima di bagian tata usaha sekitar pukul 12.00 WIB tanpa alamat pengirim, maupun perusahaan jasa pengiriman paket.

“Dikirim seperti pengiriman paket, terbungkus rapi,” kata Munir Abas, pimpinan Pondok Pesantren Ulumul Qur’an, Rabu, 11 Juni 2014.

Mereka telah menyimpan tabloid itu karena dianggap kampanye hitam. Sampul tabloid yang diterima itu dengan headline berjudul ‘PDIP Partai Salib’, ‘Jejak Hitam di Era Mega’, dan ‘Pria Berdarah Tionghoa Itu Kini Capres’. “Ini menyudutkan salah satu capres,” kata Munir. (Baca:Tabloid Obor Rakyat serang Jokowi lagi, ini dia pengelolanya)

 

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.