Polemik siaran quick count, ini tanggapan Dirut RRI

Polemik quick count Pilpres 2014 yang diselenggarakan Radio republik Indonesia (RRI) kian memanas. Apalagi  terkait dengan pemanggilan Komisi I DPR terhadap RRI karena menyiarkan hasil penghitungan cepat tersebut.

Terkait dengan polemik tersebut, Direktur Utama (Dirut) LPP RRI, Niken Widyastuti menegaskan, proses hitung cepat atau quick count yang diselenggarakan RRI usai pencoblosan 9 Juli kemarin adalah hasil dari pusat penelitian dan pengembangan (puslitbang) yang dikembangkan RRI.

“Jadi RRI menyelenggarakan quick count dan dalam hal ini RRI itu adalah puslitbang diklat, jadi RRI ini mempunyai 86 satuan kerja, dan salah satunya adalah puslitbangdiklat,” kata Niken di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (15/7).

Lebih lanjut Niken menjelaskan, tugas dari puslitbang dan diklat RRI ini, lanjut Niken, sesuai dengan keinginan Komisi I DPR RI yakni membuat kajian riset. “Bahwa RRI harus membuat audit secara komprehensif melalui penelitian kajian riset. Jadi tugas mereka adalah salah satunya membuat penelitian-penelitian, termasuk penelitian persepsi publik terhadap para pemimpin semua adalah untuk kepentingan siaran,” jelas Niken sebagaimana dilansir Merdeka.

Hasil hitung cepat yang diperoleh dari pusdiklat litbang RRI kemudian digunakan untuk kepentingan penyiaran. “RRI ini diberi tugas oleh negara memberikan siaran informasi. Maka informasi, khususnya quick count ini, kami menyiarkan quick count yang diselenggarakan oleh puslitbang diklat. Untuk anggaran ya sepenuhnya anggaran rutin biasa,” jelas Niken.

Niken mengaku, hitung cepat yang dipublikasikan oleh lembaganya tersebut adalah murni sebagai bentuk penyampaian informasi. Oleh sebab itu, Niken berharap, data hitung cepat yang dipublikasikan lembaganya tersebut hanya digunakan sebagai pembanding, bukan sebagai acuan hasil.

“Tujuannya kami ini betul-betul tulus hanya memberikan informasi. Quick count mohon dengan sangat digunakan hanya sekedar preferensi atau sekedar data pembanding,” ucap Niken.

Izin dari KPU

Lebih lanjut Niken mengatakan bahwa RRI sudah mempublikasikan hasil hitung cepat sejak pemilu tahun 2009, juga pada saat pemilu legislatif 9 April lalu. Hasil hitung cepat tersebut diakui Niken mendapat apresiasi dari Komisi I DPR RI lantaran hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil rekapitulasi suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Selain itu, Niken mengungkapkan bahwa puslitbang diklat RRI sudah mengantongi izin dari KPU untuk mempublikasikan hasil risetnya. Dalam mempublikasikan hasil hitung cepatnya, RRI mengacu pada tiga hal yakni data objektif dari 2000 TPS Kecamatan, kemudian juga 2000 relawan yang tersebar dari sabang sampai Merauke yang disebarkan sampai di wilayah-wilayah perbatasan.

“Kemudian RRI menyelenggarakan exit poll, exit poll itu adalah survei bagi pemilih, ini adalah hanya untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan bagi pemilih,” tutur Niken.

Banjir dukungan

Sementara terkait dengan pemanggilan Komisi I DPR terhadap RRI atas siaran quick count menuai polemik di sosial media. Gerakan ini diprediksi bisa menuai semangat pembelaan publik yang sama ketika lembaga antikorupsi KPK diserang.

“Banjir dukungan netizen di #saveRRI tersebut masih terus mengalir dan tidak menutup kemungkinan akan membuahkan sukses serupa #saveKPK, karena diperlukan upaya yang sangat besar untuk membungkam suara rakyat di social media,” ujar pendiri situs web pemantau social media PoliticaWave, Yose Rizal, Selasa (15/7/2014).

Hasil pemantauan lembaganya menemukan bahwa sejak Senin (14/7) lalu, netizen menggunakan #saveRRI untuk menyatakan dukungannya pada isu tersebut sejak pukul 16.00 WIB hingga Selasa pukul 09.00 WIB.

Jumlah percakapan, dilansir OkeZone, sudah mencapai 44.300 buzz. Puncak percakapan terjadi pada pukul 21.00 WIB dengan total percakapan mencapai 8.900 buzz.

Jumlah percakapan yang besar tersebut, jelas Yose, berhasil membawa #saveRRI masuk ke dalam daftar trending topics Indonesia di urutan pertama. Percakapan #saveRRI tersebut ternyata dimotori oleh sejumlah akun dari kalangan figur publik seperti @indrabektiasli, @jokoanwar, @killthedj, @deelestari dan masih banyak lagi.

PoliticaWave mencatat, semboyan RRI “sekali di udara tetap di udara” menjadi kata kunci yang paling banyak digunakan oleh netizen untuk menyatakan dukungannya dengan 1.719 buzz. Hal menarik lainnya dari #saveRRI tersebut adalah munculnya berbagai Tweet Picture kreatif yang banyak menarik perhatian netizen. Seperti postingan akun sutradara @jokoanwar yang mendapat retweet sebanyak 4.400 kali dan favorite sebanyak 200 kali.

“Gerakan ini merupakan bentuk dukungan untuk melawan berbagai kuasa yang akan melemahkan sebuah institusi seperti KPK ataupun RRI digunakan oleh netizen untuk menyuarakan dukungan dan perlawanan atas usaha-usaha para elit politis yang akan menurunkan kredibilitas RRI,” cetus Yose.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.