Ini curhat lengkap kedua terpidana mati 'Bali Nine'

Dua warga negara Australia, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan yang disebut dengan anggota sindikat ‘Bali Nine’ menanti giliran dihadapkan ke regu tembak. Keduanya mengugkapkan curahan hatinya (curhat) terkait dengan penyesalan atas perbuatan mereka di masa lalu.

Myuran Sukumaran

Aksi LSM Mercy Campaign.Org untuk menolak hukuman mati anggota Bali Nine di Renon, Denpasar, Sabtu (31/01/2015). (TribunNews)
Aksi LSM Mercy Campaign.Org untuk menolak hukuman mati anggota Bali Nine di Renon, Denpasar, Sabtu (31/01/2015). (TribunNews)

Melalui tulisan tangannya, Myuran Sukumaran mengawali menulis surat tersebut dengan permintaan maaf dan rasa sesalnya atas tindakannya pada 2005 lalu.

Myuran curhat bahwa dulu dia masih sangat muda, bodoh, dan tidak berpendidikkan. Ia menyadari bahwa perbuatannya tersebut telah membuat malu keluarga dan negaranya.

Myuran Sukumaran. (News.Com.Au)
Myuran Sukumaran. (News.Com.Au)

Pria 33 tahun ini mengaku awalnya sangat sulit hidup di penjara dalam waktu yang lama. Namun, setelah dirinya mempelajari bahasa Indonesia dari petugas lapas, ia mulai belajar kasih sayang, kebaikan, dan kesabaran. Dan ia gembira menjadi orang seperti saat ini.

Myuran tidak menuliskan adanya permintaan keringanan hukuman malah menyadari bahwa suratnya tidak berarti apapun untuk pihak-pihak yang akan mengeksekusinya.

“Saya tahu surat ini tidak akan berarti apa-apa bagi anda bapak-bapak atau memiliki dampak kepada eksekusi saya yang semakin dekat. Tapi saya ingin anda tahu bahwa saya telah berubah. Saya sekarang adalah orang baik karena pengalaman saya di sini,” tulisnya dengan goresan tinta yang lebih tipis daripada surat Andrew Chan sebagaimana dilansir TribunNews.

Selain surat dan berkas-berkas pertimbangan hukuman, dalam memori PK juga diselipkan beberapa foto-foto Myuran di dalam lapas.

Di antaranya saat melakukan kegiatan seperti melukis, mengajar komputer, beribadah, dan lain sebagainya.

Andrew Chan

Andrew Chan. (News.Com.Au)
Andrew Chan. (News.Com.Au)

Curhat serupa sebelumnya disampaikan Andrew Chan yang kini berusia 29 tahun. Dia mencurahkan pikiran dan perasaannya melalui surat yang dia tulis. Surat tersebut seakan-akan ditujukan bagi dirinya sendiri.

Chan mengaku, ia terlibat dengan narkoba dalam usia relatif muda. 15 tahun. “Dear aku yang dulu, saat dewasa nanti, kau akan berada di penjara di Bali. Dan kau akan dieksekusi mati. Semua itu terjadi karena kamu berpikir bahwa mengonsumsi narkoba itu keren. Obat yang kau konsumsi membuatmu berpikir, ‘oke untuk mengimpornya dan menghasilkan uang dari itu.’ Keluarga dan teman-temanmu sangat sedih, hidupmu sendiri akan berakhir di depan regu tembak. Dari lubuk hati terdalam, kau bukan sosok yang buruk, namun narkoba membuatmu berbeda. Namaku, Andrew Chan.”

Surat itu ditampilkan dalam sebuah film dokumenter untuk anak-anak SMA, Dear Me: The Dangers of Drugs.

Surat sepanjang 6 lembar itu juga ditujukan pada remaja Australia. Memperingatkan agar mereka menjauhi narkoba dan kejahatan.

“Aku tak tahu pilihan apa yang sedang kalian buat. Aku hanya ingin kalian ingat, “apakah pilihan itu bermanfaat?,” kata Chan seperti dilansir Liputan6 dari News.com.au.

“Kalian semua masih muda dan sedang menghadapi pilihan penting dalam hidup. Apa yang kalian pilih saat ini menentukan seperti apa kalian di masa depan,” tambah dia. Jika ingin jadi preman dan penjahat, aku akan bertemu dengan kalian di dalam sini (penjara).”

Namun, kata Chan, bagi mereka yang ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam hidup, “Berhati-hatilah dan belajar dengan keras.”

Dalam suratnya, Chan menyesali pilihan hidupnya yang salah — yang membuatnya berakhir di balik jeruji besi di Lapas Kerobokan, Bali. Ia jadi penghuni penjara sejak 17 April 2005.

Chan divonis hukuman mati karena dinyatakan terbukti bersalah menjadi otak penyelundupan 8,3 kg heroin.

“Usiaku baru 29 tahun. Dan jujur, aku mungkin tak akan merayakan ulang tahunku yang ke-30. Berapa orang dari kalian yang berniat mengikuti jalanku? Aku harap apa yang kukatakan akan menembus pikiran dan hatimu. Dan sebagian besar dari kalian, kalaupun tidak semua, akan meraih sesuatu lebih daripada aku,” kata Chan.

“Aku melewatkan banyak pernikahan, pemakaman, sesuatu yang sederhana seperti kehadiran keluarga di sisiku. Justru rasa sakit yang kusebabkan, tak hanya bagi diriku tapi juga untuk seluruh keluargaku. Sentuhan hangat, atau pelukan, bahkan tak mungkin bagiku yang terkutuk ini.”

Chan menambahkan, ia tak punya apapun saat ini. Kecuali jeruji penjara untuk dipeluk. Ia tak punya kesempatan untuk melihat kelahiran anak pertamanya. Bahkan memiliki keturunan adalah hal mustahil.

“Hidupku adalah contoh sempurna dari kesia-siaan. Sampah. Kalian tak seharusnya mengalami hal yang sama.”

Chan mendorong pemuda di Australia untuk mencari bantuan dari konseling sekolah, pusat kepemudaan, atau gereja. Agar tidak berakhir seperti dia.

Sementara, sutradara film dokumenter, Malinda Rutter kali pertama bertemu Chang dua tahun lalu. Menurut dia, terpidana mati itu sudah banyak berubah.

“Andrew Chan saat ini adalah sosok yang benar-benar berubah, berbeda dengan pria yang dulu ditangkap.”

Chan, kata dia, menggunakan sisa waktu dalam hidupnya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ia juga membuka kelas memasak dan kerajinan untuk sesama narapidana.

Rutter mengaku membuat film dokumenter dengan harapan akan membangkitkan empati untuk Chan dan sesama terpidana mati Bali Nine, Myuran Sukumuran.

Sebelumnya, PM Australia Tony Abbott dan Menlu Julia Bishop meminta penundaan bahkan pembatakan eksekusi mati pada Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan, ia sudah membalas surat dari Menlu Bishop.

Surat tersebut menjelaskan keadaan Indonesia yang sudah darurat narkoba dan meresahkan. “Intinya menjelaskan kedaruratan kejahatan narkoba di Indonesia,” jelas Menteri Retno.

Bagi Indonesia, tidak ada kompromi terhadap para pelaku kejahatan narkotika.

Dukungan pembatalan eksekusi

Terkait dengan rencana eksekusi mati terhadap Andrew dan Myuran, sedikitnya ada 10 orang yang terdiri dari delapan orang dewasa dan dua anak-anak berunjuk rasa menyerukan selamatkan kedua terpidana mati itu. Dalam aksi yang digelar di Jalan Sumat Maja, Renon, Denpasar, Sabtu (31/01/2015) itu mereka membagikan sebuah stiker. Stiker itu bergambar hati, ada tanda silang hitam di dalam hati, dibalut dengan tulisan hope mercy.

Di bawah lambang, berisikan hastag (#) keephopealive, dengan alamat Website Mercycampaign.org. Dan terakhirnya bertuliskan sign The petition To save ‎Myuran dan Andrew.

Sekitar satu jam aksi itu dilakukan oleh sebagian kecil warga Australia itu dan satu orang warga Indonesia itu.

LSM Mercy Campaign asal Australia demo tolak hukuman mati di Bali. (DetikNews)
LSM Mercy Campaign asal Australia demo tolak hukuman mati di Bali. (DetikNews)

Salah satu yang turut hadir ialah Aktivis HAM Udayana,‎ yakni MA Mirdjaja. Ia menjelaskan aksi tersebut dalam rangka menyelamatkan Myuran dan Andre Chan. Dalam hal ini meminta dengan hormat, supaya Presiden Joko Widodo untuk memikirkan lagi hukuman mati terhadap kedua terpidana mati.

Hal itu juga menimbang kelakuan baik keduanya selama di lapas Kerobokan kelas II A selama kurun waktu 10 tahun terakhir.
“Apa gunanya kalau sudah bertaubat tapi masih tetap dihukum mati,”‎ kata rohaniawan itu usai membagikan stiker seperti dikutip DetikNews.

Aksi berjalan damai, tidak ada teriakan provokatif dalam aksi itu. Mereka hanya berkumandang ingin suaranya sampai didengar RI 1, dan keringanan dapat diberikan pada Myuran dan Andrew. “Baik penjahat atau orang baik masih memiliki hak untuk hidup. Kami berharap beliau (Jokowi) memperhatikan kebijakan yang dibuat ini,” tukasnya.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.