Kisah Brigez, kisah indah geng motor yang kini bertekad insyaf

Geng motor adalah kata dan istilah yang semakin hari semakin memenuhi halaman media masa dan menjadi pembicaraan para blogger. Bukan karena kebaikan mereka, sebaliknya adalah cerita tentang keganasan dan citra buruk mereka yang terungkapkan ke permukaan. Maka inilah sebuah kisah tentang Birgez yang kini bertekad mengubah sikap dan perilaku mereka dalam bermasyarakat.

Cerita tersebut yang kemudian diangkat Kantor Berita Antara dengan judul Ketika geng motor Bandung bermuhasabah, seperti berikut ini:

“Muhasabah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti intropeksi diri.  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti intropeksi diri. Kata itu juga yang membuat sekitar lima ribu anggota “geng motor” Brigez Indonesia datang ke  Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, pertengahan Februari 2015 lalu.

Mereka menggelar acara “Silaturahmi Akbar, Muhasabah, Dzikir dan Berdoa untuk Indonesia”.

“Bisa dikatakan menjadi sebuah titik balik buat kami, keluarga besar Brigez Indonesia untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi menurut ajaran agama Islam,” kata Ketua Panitia acara “Silaturahmi Akbar, Muhasabah, Dzikir dan Berdoa untuk Indonesia”, Kiki Ahmad.

Dibimbing Ustad Arifin Ilham, para anggota Brigez yang datang dari wilayah Bandung Raya, Kabupaten Garut dan luar Jawa Barat seperti Bali bertekad untuk mengubah citra negatif anggota geng motor.

Ia mengatakan, label negatif dari masyarakat soal kehadiran kumpulan anak muda yang bernaung dalam bendera Brigez tersebut memang sudah melekat kuat.

Terlebih eksistensi Brigez yang dipandang sebagai geng motor yang disegani di wilayah Bandung Raya tersebut, sering dicap bertindak kriminal, dan kerap terlibat perseteruan dengan geng lainnya.

“Posisi Brigez,di mata masyarakat hancur, makanya kita berpikir bagaimana caranya agar cap negatif tersebut bia hilang. Dan tercetuslah ide untuk membuat ini,” katanya.

Oleh karena itu, melalui kegiatan spritual tersebut, katanya, ia dan anggota Brigez lainnya seperti mendapatkan semacam pencerahan batiniah atau spiritual tentang arti kehidupan yang sebenarnya.

“Jujur, saya dan teman-teman kemarin itu merasa apa yang selama ini kita jalani dalam kehidupan itu ternyata jauh dari Sang Pencipta. Kami banyak melanggar. Tapi kami juga berusaha ingin lebih baik di mata Allah dan masyarakat,” ujarnya.

Humas Keluarga Besar Brigez Indonesia Muhamad Eridwan atau yang akrab disapa Stones mengatakan rencananya kegiatan dzikir akbar dan musabah tersebut akan dilakukan di titik lainnya yang ada di luar Kota Bandung.

“Insya Allah kita ke depan akan membuat semacam road show ke titik-titik lainnya. Jadi acaranya semacam silaturahmi tapi ada acara dzikir dan muhasabahnya,” kata Stones.

Bercucuran Air Mata

Anggota geng motor selama ini lekat dengan citra negatif. Namun di balik penampilannya yang bertato, ternyata mereka becucuran air mata ketika Ustad Arifin Ilham memberikan siraman rohani.

“Subhanallah sekali, mereka menangis. Jadi inti tausyiahnya lebih pada evaluasi diri, menyerahkan segala pada Sang Pencipta,” ujar Sekretaris DKM Masjid Raya Bandung H Aos Sutisna yang hadir pada acara Brigez Berdzikir tersebut mewakili Ketua DKM yang berhalangan.

Ia mengatakan, usai melakukan dzikir dan muhasabah mereka melaksanakan salat Dzuhur berjamaah.

“Dan Alhamdulilah ternyata Pak Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sempat datang di akhir. Acil Bimbo juga ada, memberikan sambutan dari majelis taklim Tjakraboeana,” katanya.

Wali Kota Bandung M Ridwan Kamil mendukung kegiatan muhasabah itu.

“Kalau buat saya begini ya, kegiatan mereka ini bagus ya. Jadi kalau ada dulunya persepsi negatif, lalu kini mereka ingin berubah dengan cara-cara baik, tentu harus didukung,” kata pria yang biasa disapa Emil ini.

Dirinya menyaksikan langsung acara silaturahmi dan zikir bersama yang dihadiri keluarga Brigez se-Jawa dan Bali.

“Mengubah pola pikir orang itu harus pelan-pelan dan tidak harus dilawan secara fisiknya. Namun dengan adanya dukungan dari berbagai pihak stigma negatif bisa dibalikan,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap apa yang dilakukan oleh anggota geng motor Brigez bisa menjadi titik balik cap buruk geng motor selama ini terlanjur dicap negatif oleh masyarakat.

“Di sini saya juga mengimbau kepada kelompok motor lainnya melakukan hal sama dalam bentuk mengisi rohaninya dalam hal-hal baik. Sehingga warga tahu ada proses perubahan ke arah lebih baik,” katanya.

Dalam laman facebook resminya Ustad Arifin Ilham menuliskan dirinya seperti menerima tamu tak biasa saat diundang oleh Keluarga Besar Brigez untuk melakukan dzikir akbar.

“Geng motor terbesar Brigez yang beranggota 30 ribu biker mengundang abang untuk berzikir,” tulis Arifin pada lama Facebooknya, Minggu (22/2).

Ia juga mengunggah sebuah foto yang menampilkan ratusan anggota geng motor Brogez duduk di dalam sebuah masjid.

“Jadi yang ada hadir banyak remaja yang pakai anting, kalung, bertato. Yang penting dan utama bagi abang, kita sama-sama berhijrah,” kata Arifin.

Geng Motor Brigez
Brigez bermuhasabah – Foto koleksi pribadi Ustaz Arifin Ilham
silaturahmi Geng Brigez
Brigez bermuhasabah – Foto koleksi pribadi Ustaz Arifin Ilham

Pengajian Rutin

Sejak tiga tahun lalu ternyata Kiki Ahmad, Muhamad Eridwan dan Erwin Taufik atau Benet, telah rutin menggelar pengajian di Masjid Al Lathiif Jalan Saninten Nomor 2 Kota Bandung.

“Alhamdulilah jalan kami untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Tiap hari Senin dan Rabu, bada Magrib kami rutin melakukan pengajian di Masjid Al Lathiif ini,” kata Benet.

Benet yang pernah menjadi Panglima Geng Motor Brigez tersebut mengaku banyak hambatan dan rintangan ketika dirinya ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

“Memang benar, untuk menjadi orang benar itu susah, ini bukanlah hal yang mudah. Semudah membalikkan telapak tangan,” katanya.

Hambatan internal dan ekternal silih berganti datang kepada ia dan rekan-rekannya di Brigez, ketika mereka memantapkan hati untuk melangkah ke jalan yang lebih baik.

“Pokoknya hambatan itu selalu saja ada. Mau jadi orang benar itu susah, karena stigma negatif yang melekat ke kami, mau berbuat baik saja sudah dicap jelek duluan. Tapi saya dan rekan lainnya bertekad untuk menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.