Ki Joko Edan ditangkap polisi karena konsumsi sabu

Dalang kondang Ki Joko Edan ditangkap Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah di rumahnya, Jalan Karanganyar nomor 7, RT 3/RW 3, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Selasa (27/9/2016) lalu. Di lokasi itu ditemukan sisa sabu 0,3 gram yang berada di brankas kamarnya.

Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, AKBP Cornelius Wisnu Aji mengatakan, dari pengakuan tersangka diketahui jika Ki Joko Edan sudah mengkonsumsi sabu lebih dari setahun. Namun dia lupa sudah berapa kali mengkonsumi barang haram tersebut.

Wisnu menyebutkan, Ki Joko Edan biasanya membeli sabu paket hemat sekitar 1 gram. Berdasarkan barang bukti yang ditemukan di brankas kamar Ki Joko Edan, ditemukan sabu 0,3 gram. Ki Joko Edan diperkirakan baru saja mengkonsumsi sabu 0,7 gram.

“Katanya baru kemarin (Senin 26/9) pakai (sabu). Dites urine (hasilnya) positif,” lanjutnya sebagaimana dilansir DetikNews.

Wisnu menambahkan, Ki Joko Edan mendapatkan sabu dengan cara memesan dan seorang kurir mengantar langsung ke rumahnya. Pihak kepolisian saat ini masih mengembangkan kasus tersebut dan mencari pemasok sabu yang dikonsumsi Ki Joko Edan.

“Ini dibeli dari seseorang di Banyumanik. Kami sudah kantongi identitasnya dan akan kami kembangkan,” kata Wisnu.

Ki Joko Edan mengatakan kepada petugas bahwa dia memakai sabu untuk mendukung aksi panggungnya.

Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, AKBP Cornelius Wisnu Aji mengatakan berdasarkan pengakuan tersangka, Ki Joko Edan mengkonsumsi sabu agar tidak mudah lelah saat beraksi serta membuat suara lebih nyaring.

“Alasannya menggunakan (sabu) dari coba-coba karena ditawarin seseorang supaya bisa tahan dan fresh. Sekali enak ketagihan dan keterusan. Setiap mau tampil manggung (dia) mengkonsumsi (sabu),” kata Wisnu kepada detikcom, Kamis (29/09/2016).

BACA JUGA:  “Ahok memang gila, Gubernur gokil”

“Katanya suaranya bisa lebih ‘Kung’. Itu alasannya dia,”tambahnya.

Ki Joko Edan dijerat pasal 112 UU nomor 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara. Kini dalang itu mendekam di sel tahanan Polda Jateng dan tidak bisa melakukan aksi panggung selama proses hukum berlangsung.

Tentang Ki Joko Edan

Joko Hadiwidjoyo atau lebih dikenal dengan nama Ki Joko Edan lahir di Yogyakarta, 20 Mei 1948. Namanya dikenal secara luas melalui pertunjukan-pertunjukan seni tradisional Jawa yaitu wayang kulit. Joko Edan merupakan penerima penghargaan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai sutradara pertunjukan wayang kulit yang melibatkan 34 kelompok seni, yang digelar di Balaikota Semarang, tahun 2005. Dia adalah penggagas Festival Sanggit Dalang se-Jawa Tengah di RRI Semarang.

Ki Joko Edan bernama asli Joko Prasojo. Kemudian ada nama lain, yang didapatkan setelah menikah, yaitu Joko Hadiwidjoyo. Sehingga sampai saat dini dikenal dengan sebutan Ki Dalang Joko Edan Hadiwidjoyo. Kiprahnya pada dunia seni pewayangan sudah memberikan kontribusi bagi pelestarian nilai-nilai budaya. Salah satu prestasi yang membanggakan ialah nama dirinya tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai sutradara pertunjukan wayang kulit yang melibatkan 34 (tiga puluh empat) kelompok seni, di Gedung Wali Kota Semarang pada Juli 2005. Joko adalah suami dari Nurhana (penyanyi), dan dari hasil pernikahan ini lahir dua orang putri, Rahayu Hana Wijayanti dan Dewi Lestari Hana Wijayanti. Joko sudah mengakrabi duni seni sejak usia muda melalui ayahnya yang pencinta wayang kulit.

Ki Joko menamatkan sekolahnya hanya sampai bangku Sekolah Dasar. Dia memilih lari dari bangku sekolah karena saat kelas dua SMP sempat tidak naik kelas sebanyak dua kali. Lepas dari sekolah, Joko ini melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai anak jalanan. Setelah puas mendapat pengalaman macam-macam, dirinya dinasihati sang ayah dan diberi motifasi penuh untuk kembali belajar. Joko mendapat arahan untuk ikut kursus pedalangan di Ngesti Bhudaya selama tiga tahun.

BACA JUGA:  Ini daerah di Jawa Tengah bagian selatan yang dilanda banjir dan longsor

Baru saja menyelesaikan tahun pertamanya di kursus Pedalangan Ngesti Bhudaya, Joko mulai lari dari jadwal belajar yang ditentukan. Dia lebih memilih untuk sering-sering melihat dan mengikuti praktik pertunjukan langsung dari dalang-dalang kondang. Kemudian dari hasil banyak mengamati itu akhirnya Joko lebih mahir mendalang dan mencoba-coba mempraktikkan walau belum selesai belajarnya. Ternyata setelah dia coba, hasilnya adalah terlaksana dengan baik. Setelah itu kecintaannya semakin besar lagi pada dunia wayang ini. Pertama kali ia mendalang, yaitu di rumahnya sendiri pada saat ayahnya mengadakan acara Suronan untuk warga sekitar di tempatnya. Tokoh wayang yang menjadi idola Joko Edan adalah Rahwana. Alasan, Rahwana merupakan sosok raja yang full comitmen, berprinsip kuat, berani mengambil risiko tinggi, dan tak kenal menyerah dalam pencapaian cita-citanya. Sedang cerita wayang favoritnya adalah Mahabarata karena kandungan ceritanya sangat kompleks, ada unsur politik, ketatanegaraan, dan lain sebagainya. Selain mendalang, Ki Joko Edan juga menguasai seni musik. Dia terampil memainkan alat musik apapun kecuali biola. Dalam menjalankan pergelaran wayangnya, Ki Joko Edan melibatkan 63 personel yang tergabung dalam kelompok Wijoyo Laras, yang terdiri dari pengendang/pengrawit dan suarawati/pesinden. Kemmpuan dan ketokohannya di dunia seni pedalangan menjadikan dirinya sering diundang sebagai pembicara di beberapa seminar, sarasehan, dan diskusi kebudayaan.

About Munzalan Mubarakan 23201 Articles
Simomot adalah situs informasi bermanfaat untuk keluarga Indonesia. Kami menyajikan info seputar bayi dan balita, bisnis, dan rumah tangga.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.