Misteri ilmu hitam yang dianut Mutmainah sebelum memutilasi anaknya sendiri

Mutmainah tega memutilasi anak kandungnya yang berusia 1 tahun dan melukai anak pertamanya di rumah kontrakannya di Gang Jaya, Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu 2 Oktober 2016 sekitar pukul 21.00 WIB. Alasan istri anggota provost Polda Metro Jaya ini melakukan perbuatan keji itu pun hingga kini masih misterius lantaran tidak konsisten, keterangannya selalu berbeda-beda.

Mengaku memotong boneka

Mutmaimah berdalih hanya memotong boneka kayu di hadapannya. Dia heran bayinya, Arjuna malah meninggal. Dia merasa tak membunuh atau memutilasinya.

“Saya cuma motong boneka kayu warna kuning, eh… Arjuna mati,” kata Muhammad Wahidin menirukan ucapan adik kandungnya, Mutmainah, di Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu 5 Oktober 2016.

Ibu muda yang kerap disapa Iin itu kini masih berada di RS Polri Kramatjati untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan, setelah membunuh dan memutilasi Arjuna.

Bisikan gaib

Muhammad Wahidin atau biasa dipanggil Wahid menceritakan, adiknya kini telah berubah menjadi aneh. Ia sedikit tak sadarkan diri. Wahid mendampingi Iin sejak ia ditemukan tanpa busana di kontrakannya hingga hari ini.

Wahid menerangkan, selama dua bulan ke belakang, adiknya sering berbicara ngawur.

Di lain kesempatan, istri anggota Provost Polda Metro Jaya Aipda Denny Siregar itu membuat pengakuan berbeda. Dia mengatakan alasannya memutilasi anaknya karena ada bisikan-bisikan aneh di telinganya.

“Dia dapat bisikan dari pocong yang ada di rumah kontrakannya, katanya disuruh ngasah pisau di pantatnya ulekan. Dia enggak tahu pas gituin (memutilasi) Arjuna, sampai enggak sadar kalau dia sudah enggak pakai baju,” kata Wahid.

Menganut ilmu hitam

Di kesempatan lainnya, saat ditanya polisi di RS Kramajati, Iin memberikan jawaban berbeda. Ia mengaku tengah menuntut ilmu hitam, sehingga potongan tubuh bayinya merupakan prasyarat yang harus ia penuhi.

“Pas direkam sama polwan, dianya (Mutmainah) jawab, sengaja gituin (memutilasi) Arjuna karena lagi pelajarin ilmu hitam,” ujar Wahid.

Dalam pengakuannya di RS Kramajati, Mutmainah merasa tak selesai dalam ritualnya. Semua potongan tubuh belum lengkap, ia gagal memenuhi syarat ilmu hitam itu.

Sebelum semua bagian itu termutilasi, Arjuna meninggal dunia. Iin tak sempat memutilasi lidah Arjuna. “Enggak lengkap, karena itu Arjuna mati dan dia gagal, kata Iin,” terang Wahid.

Bagian tubuh itu kemudian diletakkan di piring sebagai sesajen. Tujuannya, agar salah satu kakak Iin yang tunarungu dapat sembuh.

Hal ini juga disampaikan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan. Iin diduga tengah mendalami ilmu tertentu sejak dua tahun lalu.

“Memang suaminya sering juga diajak berantemlah dengan yang bersangkutan. Itu yang kita sayangkan kenapa bisa terjadi. Yang jelas hasil pemeriksaan yang kita periksa demikian,” tutur Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa Oktober 2016.

Soal ilmu yang dipelajari Iin, Iriawan mengaku pihaknya belum mengetahuinya. Termasuk dari mana Iin mempelajari ilmu tersebut. “Itu sedang kita dalami. Dia sementara hanya menyampaikan itu,” kata Iwan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Awi Setiyono, mengatakan pemutilasi bayi tersebut masih menjalani pemeriksaan psikologi di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Kondisi kejiwaan Iin masih belum stabil.

“Makanya kemarin pun sempat ditanyain yang bersangkutan ya merasa tidak bersalah. Enggak ngaku melakukan pembunuhan, karena kejiwaannya enggak stabil,” ujar Awi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa.

Iriawan mengatakan, jika benar Iin mengalami gangguan kejiwaan, kasus pidananya tidak bisa diteruskan. Hal itu berdasarkan Pasal 44 KUHP.

“Kita dalami betul, apa dia betul 44 (KUHP) atau memang halusinasi saja. Ya kalau itu (halusinasi) harus dipertanggungjawabkan. Tapi kalau ada gangguan jiwa yang mengarah kepada kejiwaannya terganggu, ya tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata pria yang akrab disapa Iwan itu.

Anak sulung trauma

Iriawan mengatakan, perhatian khusus diberikan kepada Denny dan juga anak pertamanya yang juga terluka akibat ulah sang ibu.

“Dari kita, dari SDM dari bagian psikologi kita dampingi, termasuk suaminya tentu akan kita lakukan itu. Kalau istrinya akan kita dalami juga dengan psikologi, kenapa bisa terjadi demikian,” ujar dia.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengungkapkan, anak pertama Aipda Denny dan Mutmainah tak mengalami luka serius. Kendati, anak tersebut masih membutuhkan perhatian khusus karena mengalami trauma.

“Enggak apa-apa sih, lukanya kan enggak serius. Tapi sudah di bawah perlindungan orangtuanya (Denny). Kita upayakan untuk membantu trauma healing-nya. Kan anak keluarga kita juga, keluarga polisi,” ucap Awi.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.