Kabar Muslim Rohingya dianiaya, begini penjelasan Menlu RI

Tentara Myanmar atau Burma mengaku menembak mati setidaknya 25 orang di desa-desa Muslim Rohingya di kawasan Rakhine yang bergolak. Kabar tersebut belakangan ini marak beredar di media sosial.


Diberitakan BBCIndonesia, Sabtu (19/11/2016) lalu, tentara Myanmar mengerahkan helikopter tempur dan menembaki desa-desa di negara bagian Rakhine. Delapan orang, termasuk dua serdadu, tewas.

Menurut militer setempat, serangan itu merupakan ‘operasi pembersihan’ yang menyasar kaum militan bersenjata, kata tentara.
Gambar dan video di media sosial menunjukkan, korban tewas itu termasuk juga perempuan dan anak-anak.

Media pemerintah berdalih, pengerahan helikopter tempur dilakukan setelah dua tentara dan enam penyerang tewas dalam bentrokan dalam penyergapan terhadap tentara.

Beberapa laporan menyebutkan sejumlah desa di kawasan Rakhine juga terbakar akibat serangan itu, di antaranyanya adalah laporan foto yang dirilis oleh Human Rights Watch.

Dalam foto tersebut dilaporkan setidaknya 430 bangunan terbakar.

Adapun foto-foto satelit itu diambil antara 22 Oktober dan 10 November, menyusul laporan terjadinya pertempuran dan mengungsinya warga sipil bulan lalu.

Para aktivis Rohingya mengatakan pemerintah berusaha secara sistematis untuk mengusir minoritas Muslim dari desa-desa mereka.

Laporan wartawan BBC Jonah Fisher dari Yangon, Myanmar menyebutkan bahwa menyerang Rohingya adalah langkah populer bagi militer setempat. Itu karena kaum Rohingya tidak disukai oleh banyak orang Burma yang menganggap mereka imigran ilegal dari Bangladesh.

Tertutup bagi media
Maraknya lagi pertempuran dipicu oleh serangan pada tiga pos pemeriksaan polisi sebulan lalu. Pemerintah Burma tidak mengizinkan wartawan independen untuk masuk ke Rakhine, sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi klaim tentang skala pertempuran.

Menurut pernyataan resmi terbaru pada hari Sabtu, tentara disergap dan kemudian terlibat bentrokan beberapa kali dengan orang-orang bersenjata, yang diperkirakan adalah kaum Muslim Rohingya, yang menyandang senapan, golok dan tombak.

Ketika mereka terdesak, dikepung oleh sekitar 500 orang, tentara meminta dukungan udara dan dua helikopter tempur dikerahkan menembaki desa Rohingya.

Namun pengakuan ini tak bisa diverifikasi.

Direktur Asia Human Rights Watch, Brad Adams mengatakan, foto-foto terbaru menunjukkan “kerusakan yang luas” yang “lebih besar dari yang diperkirakan semula.”

“Otoritas Burma harus segera membentuk tim investigasi bersama PBB sebagai langkah pertama menuju terjaminnya keadilan dan keamanan bagi para korban,” katanya.

Pemerintah – yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi – berbicara tentang ‘operasi pembersihan’ untuk melakukan pencarian para penyerang.

Kritikan untuk Aung San Suu Kyi

Penganiyaan militer Myanmar terhadap komunitas Muslim Rohingya di Rakhine telah disorot PBB sebagai salah satu komunitas yang paling teraniaya di dunia. Sikap Aung San Suu Kyi yang jadi pihak berkuasa di Myanmar saat ini dinilai memalukan karena bungkam atas derita yang dialami komunitas Rohingya.

Pemerintah Myanmar telah menyangkal jika militernya melakukan penembakan, pembunuhan, pemerkosaan dan penjarahan terhadap warga Rohingya dalam operasi militer terbaru di Rakhine Oktober lalu. Namun, berbagai bukti menyatakan sebaliknya.

Suu Kyi meraih Hadiah Nobel Perdamaian saat jadi korban penindasan junta militer ketika dia jadi pemimpin oposisi Myanmar. Suu Kyi diharapkan masyarakat internasional jadi pembela komunitas tertindas, tapi bungkam atas nasib komunitas Rohingya di negaranya.

Kritikan keras terhadap Suu Kyi, salah satunya disuarakan media Bangladesh, Dhaka Tribune, dalam editorialnya, hari Senin (21/11/2016) yang berjudul “Come together for the Rohingyas”.

“Penaklukan dan penindasan brutal terhadap komunitas Rohingya terus terjadi meskipun pemerintah Aung Sun Suu Kyi berada di kekuasaan,” bunyi editorial itu. “Ini adalah realitas mengerikan dari komunitas minoritas ini yang mendiami negara bagian Rakhine, Myanmar,” lanjut editorial tersebut.

Bangladesh telah mengecam keras pemerintah Suu Kyi, karena komunitas Rohingya jadi korban penganiayaan militer Myanmar ketika hendak melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh.

“Yang lebih bermasalah adalah bagaimana Myanmar terus menyangkal keadaan ini, meskipun bukti menyatakan sebaliknya,” kritik media Bangladesh itu. ”Ini sangat memalukan bahwa bangsa itu terus berperilaku dengan cara ini meskipun kemarahan internasional terhadap taktik yang tidak manusiawi tersebut,” lanjut kritik tersebut mengacu pada pemerintahan Suu Kyi.

Pemerintah Bangladesh berencana menjatuhkan sanksi perdagangan yang ketat pada Myanmar kecuali komunitas Rohingya diperbolehkan kembali ke tanah air mereka dan diberikan hak yang sama sebagai warga negara Myanmar.

“Penganiayaan terus terjadi pada komunitas Rohingya Myanmar, tidak hanya suara buruk dari Myanmar, tapi dari seluruh dunia. Tidak bisa lagi dunia berpangku tangan dan menonton,” imbuh kritik editorial itu.

Sikap Indonesia

Terkait hal ini, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, pemerintah Indonesia tetap melakukan diplomasi. Retno menjelaskan, pihaknya memang perlu mengklarifikasi semua berita yang ada.

“Makanya saya sampaikan, kita tidak akan memberikan komentar sebelum klarifikasi. Karena kalau kita kemudian memberikan komentar, terus kemudian salah, kan akan sulit,” ujar Retno, di Istana Negara sebelum bertemu Presiden Jokowi, Senin, 21 November 3016.

Retno sebagaimana dilansir VivaNews mengatakan, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, juga sudah melakukan pengecekan lokasi. Retno mengatakan, pihaknya tetap memperhatikan perkembangan keamanan yang terjadi di Rohingya.

“Tetapi yang jelas, bahwa kita memantau dari dekat semua perkembangan yang ada di Rohingya State. Dan kita juga menyampaikan concern terhadap situasi keamanan,” jelasnya.

Lebih lanjut Retno menambahkan, pemerintah Indonesia tetap fokus pada nasib orang-orang Rohingya. Menurutnya, diplomasi Indonesia terkait masalah Rohingnya tidak dilakukan dengan gembar-gembor.

“Diplomasi kita itu kan bukan megaphone diplomacy. Dalam artian, kalau kita melakukan sesuatu, terus kemudian kita gembar-gembor, enggak,” tutur Retno.

Diplomasi dilakukan tanpa harus menyiarkan ke publik. Sehingga, kata Retno, tidak berarti pemerintah cuek terhadap situasi di negara peraih Nobel perdamaian Aung Sang Suu Kyi itu. “Diplomasi kita jalan secara konsisten untuk membangun Rohing State secara inklusif,” katanya.

Pengakuan Dubes

Sebelumnya, Duta besar Indonesia untuk Myanmar Ito Sumardi bersama belasan perwakilan negara lainnya di Myanmar, diajak oleh pemerintah setempat menyaksikan kampung-kampung etnis Rohingya yang disebut di media sosial dibakar dan masyarakatnya dibantai.

Pada kenyataannya kata Ito, kabar tersebut tak benar sepenuhnya. Ito menjelaskan, pemerintah Myanmar memang sedang melakukan operasi keamanan yang berekses terhadap etnis Rohingya. Namun hal itu dilakukan pasca adanya serangan kelompok militan Rohingya terhadap beberapa pos penjagaan polisi dan militer di utara Myanmar.

“Tentu kita harus jernih dan objektif dalam hal ini,” ujar Ito Sumardi dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TVOne, Senin, 21 November 2016.

Penyerangan itu, menurut Ito, menyebabkan sejumlah anggota polisi dan militer tewas. Operasi keamanan kemudian dilakukan dan berekses terhadap etnis Rohingya. Sementara kelompok militan yang menyerang pos keamanan disebutkan berafiliasi dengan kelompok radikal dari Timur Tengah.

Ia mengimbau publik harus hati-hati menyebarkan dan menerima informasi terkait kekerasan dan pengusiran yang dilakukan terhadap etnis Rohingya. Apalagi menurutnya, dalam kasus Rohingya, ada peran kelompok militan Rohingya yang diketahui berhubungan dengan kelompok radikal dari Timur Tengah.

“Berita yang dimunculkan mungkin ada propaganda dari kelompok tertentu yang bermain di Rohingya,” kata Ito.

Tak bisa dinafikan bahwa situasi ini adalah persoalan keamanan domestik Myanmar. Sementara sekitar 1.000 orang warga Indonesia di Myanmar disebutkan dalam keadaan tenang di negara tersebut. “Reaksi ini adalah domestik pemerintah Myanmar memulihkan keamanan di sana,” pungkas Ito.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.