Kian terbuka, konsumen di Indonesia makin gemar belanja online

Kehadiran toko online sebenarnya bukan hal baru di kalangan masyarakat Indonesia. Namun dengan kemunculan berbagai aplikasi di ponsel pintar, belanja online pun menjadi lebih mudah bagi siapa saja.

Bahkan, semakin lama, kebiasaan masyarakat Indonesia cenderung berpindah dari belanja konvensional ke belanja online.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Barat (Jabar), Jodi Janitra, mengatakan kehadiran toko online direspon sedikit terlambat oleh pengusaha mikro kecil (UMK) yang ada di Jawa Barat.

Hal ini pun berdampak pada menurunnya omzet yang mereka dapatkan menjelang lebaran tahun lalu.

Namun, tidak demikian dengan tahun ini, di mana para pelaku UMK sudah menyadari kehadiran teknologi. Akibatnya, omzet yang mereka terima pun naik 10 hingga 15 persen.

Jodi pun mengimbau para pelaku UMK agar dapat mengejar tren belanja online yang ada di pasar saat ini.

Menurut data dari sebuah Lembaga Riset Telematika, Sharing Vision dikutip dari Liputan6 Tekno, hingga saat ini masih terdapat 36 persen usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia yang menjual dagangan mereka secara offline.

Sementara dari pelaku UKM yang memiliki kemampuan untuk online, 37 persen hanya memiliki kemampuan sangat mendasar, 18 persen memiliki kemampuan menengah, sedangkan yang memiliki kemampuan lanjut hanya 9 persen.

Indonesia sendiri diprediksi akan memiliki potensi pasar e-commerce senilai 46 miliar dolar Amerika pada tahun 2025, sedangkan prediksi lain mengatakan bahwa pada tahun 2020, lebih dari separuh dari masyarakat Indonesia akan terlibat dalam kegiatan e-commerce.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.