Fakta-fakta tentang Farhan, mahasiswa Gunadarma yang jadi korban perundungan

Kasus perundungan atau bullying terhadap mahasiswa Universitas Gunadarma (UG) bernama Muhammad Farhan menguak sejumlah fakta. Di antaranya tentang Farhan yang ternyata bukan hanya sekali mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari teman kuliahnya, bahkan ia sempat dikurung di dalam kelas.

Apa yang dialami Farhan selama ini di kelasnya terkuak setelah dirinya menjadi korban tindakan bully oleh teman-teman sekelasnya di kampus Universitas Gunadarma, Jumat (14/07/2017). Tindakan tersebut viral lewat video yang beredar luas di media sosial.

Perlakuan bullying itu ternyata sudah dialaminya sejak dia pertama kali masuk kuliah di Gunadarma.

“Kalau pulang dikonciin pintu kelasnya, tasnya ditarik, dia enggak senang. Dia enggak melawan,” tutur ibunda Farhan, Elis (57), di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa.

Menurut Elis, putra bungsunya itu sebelumnya tak pernah bercerita apa pun kepada keluarga soal perlakuan rekan satu kelasnya selama ini.

“Selama kejadian, enggak cerita. Dia enggak mau menyusahkan orang tua. Semua dipendam sendiri,” tutur Elis sebagaimana dilansir SindoNews.

Dia mengatakan Farhan selama ini berhubungan baik dengan teman-teman sepermainnya di lingkungan tempat tinggalnya walau tak sering ke luar rumah.

“Baik-baik saja, bertegur sapa dengan temannya di rumah, jarang ke luar rumah,” kata dia.

Tidak berkebutuhan khusus

Menyoal kemungkinan anaknya orang berkebutuhan khusus, sang ayah, Mansur, menandaskan tak ada indikasi ke arah itu.

“Dia wawancara lancar. To the point, apa adanya. Kemarin saat pertemuan, Farhan syarat-syarat ke arah autis itu tidak ada. Istri saya bilang itulah pukulan berat,” kata dia.

Sementara itu, salah satu tim investigasi kasus Farhan, Dr. Matrissya, mengatakan penilaian bahwa Farhan orang berkebutuhan khusis atau tidak, memerlukan waktu dan rangkaian pemeriksaan lainnya.

“Keputusan tidak mengarah ke autis atau tidaknya bukan hanya berdasarkan saya tetapi ada psikolog. Perlu dilakukan rangkaian pemeriksaan lain,” kata dia dalam kesempatan lain.

Sosok yang mandiri
Dari pertemuan yang telah dilakukan antara pihak kampus dengan Farhan, disebutkan bahwa Farhan cukup mandiri.

Bahkan Farhan mampu mengendarai motor dari rumahnya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, menuju ke kampusnya di Kelapa Dua, Depok.

“(Farhan) bisa mandiri, bisa bawa motor sendiri dari Ciganjur. Dia punya SIM,” ungkap Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Komputer dan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma, Marlisa Ganefa saat pertemuan di gedung Rektorat Universitas Gunadarma, Depok pada Selasa (18/07/2017).

Meski sangat mandiri, Marlisa mengatakan ada satu kendala yang dihadapi Farhan. Hingga kini Farhan masih sulit untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman-teman dikelasnya.

Namun, Farhan dapat berbicara secara verbal dengan baik.
“Dia hanya sulit berkomunikasi, bicara verbal dia bisa. Hanya kurang bersosialisasi dengan teman-temannya,” tambah Marlisa seperti diberitakan Liputan6.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.