Berbagai teror di Indonesia yang disebarkan via Telegram

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Kemenkominfo memutuskan untuk memblokir salah satu layanan chatting, Telegram.

Alasan utama dari pemblokiran Telegram adalah karena layanan tersebut dianggap menjadi tempat beredarnya konten yang mengandung unsur radikalisme dan terorisme.

Hal ini ditunjukkan dengan data yang menyatakan bahwa sejak tahun 2015, telah ada 17 aksi terorisme yang menggunakan Telegram sebagai sarana komunikasinya.

Berikut adalah ke-17 aksi yang dimaksud.

  1. 23 Desember 2015: Rencana bom tempat ibadah dan pembunuhan Ahok
  2. 14 Januari 2016: Bom dan penyerangan bersenjata api di jalan M.H. Thamrin, Jakarta
  3. 5 Juni 2016: Bom di Mapolresta Surakarta
  4. 8 Juni 2016: Rencana pengeboman Pos Pol Lantas di Surabaya
  5. 28 Agustus 2016: Bom Gereja Santa Yoseph Medan
  6. 20 Oktober 2016: Penyerangan senjata tajam Pos Pol Lantas Tangerang
  7. 13 November 2016: Bom Gereja Oikumene Samarinda
  8. 23 November 2016: Rencana pengeboman DPR RI dan DPRD
  9. 10 Desember 2016: Rencana pengeboman Istana Merdeka
  10. 21 Desember 2016: Rencana pengeboman Pos Polisi Tangerang
  11. 25 Desember 2016: Rencana penyerangan senjata tajam Pos Polisi Bundar Purwakarta
  12. 27 Februari 2017: Bom Cicendo Bandung
  13. 8 April 2017: Penyerangan senjata api Pos Polisi Tuban
  14. 27 Februari 2017: Bom Kampung Melayu Jakarta
  15. 25 Juni 2017: Penyerangan senjata tajam penjagaan Mako Polda Sumut
  16. 30 Juni 2017: Penyerangan senjata tajam di Masjid Falatehan Jakarta
  17. 8 Juli 2017: Bom panci Buah Batu Bandung

Meski aplikasi web Telegram telah diblokir, aplikasi mobile Telegram masih bisa digunakan hingga saat ini.

 

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.