Waspada! Kelainan pada kehamilan dapat berakibat fatal

Ibu hamil memang rentan mengalami berbagai penyakit selama masa kehamilannya. Kelainan-kelainan pada kehamilan ini kerap membuat calon ibu merasa cemas. Sebenarnya, kelainan pada kehamilan dapat dicegah. Untuk dapat mencegahnya, sebaiknya calon ibu memahami tentang penyakit yang dapat menyerang ibu hamil. Berikut beberapa kelainan yang sering dialami oleh wanita yang sedang menjalani proses kehamilan.

Kelainan kromosom

Kelainan kromosom dapat menjadi salah satu masalah yang dialami bayi semenjak dalam kandungan yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kelainan kromosom berisiko menimbulkan gangguan mental dan fisik pada bayi yang dilahirkan, hingga menyebabkan keguguran dan kematian bayi. Resiko terjadinya kelainan genetika pada bayi makin meningkat seiring dengan bertambahnya usia ibu hamil.

Kelainan kromosom ditandai dengan jumlah atau struktur kromosom pada janin yang tidak normal. Pada manusia dalam kondisi normal, jumlah kromosom ada 46, yang terdiri atas 22 pasang kromosom non-sex dan 1 pasang kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin janin. Sedangkan pada janin yang tidak normal, kromosom bisa berjumlah lebih banyak atau lebih sedikit dari 46 kromosom. Misalnya anak yang mengalami down syndrome memiliki 47 kromosom.

Sebagai deteksi dini kelainan kromosom pada kehamilan, biasanya digunakan pemeriksaan kromosom lewat cairan amnion atau ketuban ibu hamil pada usia kehamilan 16-20 minggu Setelah didapatkan sampel, maka darah akan dilakukan pemutaran berkecepatan tinggi untuk mendapatkan sel dari bagian yang mengendap. Sel selanjutnya ditumbuhkan di laboratorium, yang memakan waktu kurang lebih sekitar 1 minggu. Proses kulturisasi ini selanjutnya akan dihentikan setelah terjadi pembelahan sel. Setelah itu sel dipecahkan untuk pembacaan kromosom oleh ahli genetika. Secara keseluruhan metode ini memakan waktu sekitar 3 minggu, dilansir dari nakita.grid.id.

Kelainan Darah

Pada Ibu hamil, darah berfungsi untuk mendistribusikan nutrisi dari Ibu ke janin. Menurut ibudanmama.com, kelainan darah yang terjadi ketika sedang mengalami kehamilan dapat beresiko pada janin yang sedang dikandung. Kelainan darah ini dapat berupa anemia, hemofilia, hipertensi, maupun hipotensi.

Anemia merupakan penyakit kekurangan sel darah merah atau disebut dengan hemoglobin. Ibu hamil dapat menjadi sangat rentan mengalami Anemia akibat kekurangan zat besi. Badan lemas, lelah berlebihan, pucat, dan pusing dapat menjadi gejala penyakit anemia. Pada ibu hamil, anemia dapat menyebabkan resiko persalinan sesar hingga bayi yang dilahirkan prematur dengan berat rendah. Untuk mencegah hal ini, ibu hamil diharapkan secara teratur mengonsumsi makanan bernutrisi dan vitamin/suplemen yang mengandung zat besi, asam folat, vitamin B12, dan vitamin C. Selain itu, ibu hamil sebaiknya cukup beristirahat.

Hemofilia merupakan penyakit keturunan yang ditandai dengan kondisi darah yang sulit membeku. Sering mengalami pendarahan terutama pada hidung, mulut, gigi, sendi, saluran pencernaan, saluran kemih, otot, maupun otak, dan darah sulit membeku merupakan gejala penyakit hemofilia. Apabila ibu hamil mengidap penyakit hemofilia, resiko pendarahan selama kehamilan dan pasca persalinan menjadi besar hingga dapat menyebabkan kematian pada Ibu hamil dan janin. Untuk mencegah resiko tersebut, ibu hamil sebaiknya berhati-hati dalam melakukan aktivitas agar tidak mengalami luka atau cedera yang dapat mengakibatkan perdarahan. Selain itu, menjaga berat badan ideal, berolahraga, dan rajin mengonsumsi makanan bernutrisi dan yang berkhasiat mempercepat proses pembekuan darah, seperti sayuran hijau, susu, keju, tomat, dan lain sebagainya.

Hipertensi merupakan tekanan darah tinggi yang diakibatkan penyempitan pembuluh darah. Ibu hamil dengan tekanan darah di atas 140/90 mmHG dikatakan mengalami Hipertensi. Mudah lelah, sakit kepala, mual maupun muntah, sesak nafas hingga pandangan kabur merupakan gejala penyakit hipertensi. Pada ibu hamil, hipertensi dapat mengakibatkan resiko bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat rendah, pelepasan plasenta dini dari dinding Rahim, hingga kematian pada Ibu hamil dan janin. Sebagai pencegahan, seyogyanya ibu hamil dapat rutin berolahraga, rajin mengonsumsi makanan bernutrisi, terutama mengonsumsi protein tinggi dan mengurangi asupan makanan yang mengandung hidrat arang dan garam, serta menghindari kelelahan dan stress.

Hipotensi merupakan kondisi tekanan darah berada di bawah normal atau terjadi penurunan tekanan sistolik 5-10 mmHg dan tekanan diastolik hingga 15 mmHg atau ditandai dengan tekanan darah 90/60 atau kurang. Sakit kepala, badan lemas, dan pusing/keliyengan adalah gejala gejala penyakit hipotensi. Ibu hamil yang menderita hipotensi dapat beresiko mengalami gangguan penglihatan, nyeri kepala, nyeri dada, sesak nafas, hingga pendarahan. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya ibu hamil memperbanyak minum air putih hingga 8-10 gelas/hari, cukup beristirahat, rajin melakukan olahraga, serta rutin mengonsumsi makanan bergizi, terutama mengandung vitamin, protein, dan kalori.

Kelainan Jantung

Dalam ilmu kedokteran telah diketahui bahwa wanita hamil memiliki dua buah detak jantung, yaitu detak jantung janin dan detak jantung dirinya sendiri. Oleh sebab itu, sudah dapat dipastikan bahwa detak jantung wanita yang sedang hamil akan berbeda dari biasanya. Dilansir dari docdoc.com, volume darah ibu hamil biasanya bertambah 30-50% untuk memberikan nutrisi bagi janin sehingga jantung harus bekerja dua kali lipat lebih keras. Karenanya, ibu hamil yang sehat pun masih dapat mengalami gangguan jantung.

Bagi wanita yang memiliki penyakit jantung bawaan, peluang mengalami kelainan ini akan lebih besar. Beberapa kelainan yang muncul diantaranya ialah Gagal jantung kongestif, endokarditis, dan kardiomiopati. Pada gagal jantung kongestif, terjadi penimbunan cairan di paru-paru, kaki, lengan, pergelangan kaki, dan telapak kaki akibat deformasi otot jantung, sedangkan endokarditis merupakan kelainan pada katup jantung yang tidak bekerja secara maksimal akibat cacat atau luka. Kardiomiopati sendiri merupakan penyakit langka yang dapat terjadi saat wanita hamil dan setelah melahirkan dimana otot jantung melemah akibat ketidakmampuan beradaptasi dengan tekanan darah dalam tubuh.

Untuk mendeteksi adanya kelainan jantung pada saat kehamilan, periksa apakah terdapat palpitasi dan detak jantung yang semakin cepat. Kemudian, jika selalu merasa lelah, sering buang air kecil pada malam hari, sesak napas dengan disertai pembengkakan pada kaki, tangan, pergelangan kaki, dan lengan, maka ada kemungkinan terdapat kelainan jantung. Karenanya, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Kelainan Letak Janin

Agar didapatkan prosentase keberhasilan yang tinggi dalam proses persalinan, pengetahuan akan posisi janin dapat menjadi sangat penting. Hal ini karena posisi janin dapat menentukan teknik persalinan. Saat ini ada banyak posisi atau letak janin yang kita kenal  dalam kebidanan, diantaranya :

  1. Posisi Kepala,
  2. Posisi Sungsang, dan
  3. Posisi Melintang.

Menurut Romana Tari dari kompasiana.com, diantara ketiga posisi tersebut, Posisi Kepala merupakan posisi terbaik, karena posisi ini memungkinkan janin dengan mudah melewati panggul ibu dan hampir sebagian besar kasus kelahiran dengan posisi ini menghasilkan proses kelahiran yang lancar dan cepat.

Posisi janin dalam rahim. Sumber: kompasiana.com

Pada posisi sungsang, biasanya bokong janin terletak dibawah rahim. Kondisi ini bisa diketahui pada saat usia kehamilan berusia 6 bulan, dan bisa berubah saat kehamilan mulai tua. Meskipun ada kejadian posisi sungsang ini tidak berubah hingga persalinan tiba. Dalam dloepic.blogspot.co.id pun disebutkan beberapa faktor yang menjadi pemicu terbentuknya posisi ini, diantaranya kehamilan kembar, kelainan bentuk rahim, pernah mengalami persalinan sungsang dan adanya tumor dalam rahim. Apabila hal ini terjadi maka persalinan dilakukan dengan caesar, Karena bila dilakukan persalinan normal maka banyak resiko yang dihadapi.

Posisi Lintang sendiri suatu keadaan di mana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Tipe posisi ini juga merupakan posisi yang beresiko, sehingga untuk posisi sungsang dan posisi melintang, sebaiknya dilakukan operasi Caesar.

Demikian beberapa jenis kelainan yang dapat dialami oleh ibu pada masa kehamilan. Agar memastikan kehamilan tetap sehat, sebaiknya ibu hamil secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dengan dokter. Semoga bermanfaat.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.