Raffi Ahmad dan Mobil Mewah Koenigsegg: “Tercyduck” Ditjen Pajak hingga bikin ‘jealous’ wajib pajak

Dengan hangatnya perbincangan mengenai mobil mewah yang seharga 60 milyar lebih yang diduga miliknya, Raffi Ahmad kembali menjadi pembicaraan khalayak ramai. Aktor tampan yang saat ini menjadi salah satu dari selebriti papan atas dunia hiburan tanah air ini memang dikenal sebagai artis yang gemar mengoleksi mobil mewah.

Pada 5 Agustus lalu, selebritis Raditya Dika mem-post di akun media sosial Twitter miliknya mengenai kunjungannya ke rumah sejawatnya tersebut. Dalam twit tersebut, Raditya Dika menulis, “Main ke rumah kak Raffi lagi. Eh malah ada mobil Koenigsegg, lebih mahal dari Lamborgini + Rolls-Royce digabung nih..”

Tweet Raditya Dika setelah menyambangi rumah Raffi Ahmad

Setelah kejadian tersebut, netizen langsung ikut heboh berkomentar. “ini orang kok kaya nya kebangetan ya. mobilnya mahal bgt dah.” kicau akun bernama Farra. Sementara beberapa netizen lain sibuk mengomentari cara membaca nama merk tersebut hingga selebtwit Handoko Tjung ikut berkicau “Kamu cakep kayak mobil Koegnisseg, tapi melihatmu jalan sama yang lain rasanya Kognyesseg.”

Tapi yang paling membuat gempar adalah komentar dari akun resmi Dirjen Pajak yang meminta Raditya Dika mengingatkan Raffi Ahmad untuk melaporkan penambahan harta untuk SPT tahunan.

Raffi Ahmad “T e r c y d u c k” Ditjen Pajak RI

Tak berapa lama, Raffi Ahmad dikabarkan mendatangi kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta Selatan dan bertemu langsung dengan Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi untuk mengklarifikasi bahwa mobil mewah tersebut bukan merupakan miliknya.

Raffi Ahmad bersama Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi

Namun demikian, dilansir dari metrotvnews.com klarifikasi yang diberikan Raffi Ahmad ini membuat beberapa pihak kecewa hingga cemburu karena merasa Raffi Ahmad diistimewakan dalam urusan perpajakan ini. Beberapa pihak dan pengamat menganggap Ditjen Pajak menjadikan aktor dengan bayaran lebih dari 6 milyar per bulan ini sebagai wajib pajak VVIP karena dapat dengan mudahnya bertemu dengan petinggi Ditjen Pajak jika dibandingan dengan wajib pajak dari kalangan asosiasi atau bahkan investor asing.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.