Yakin kambing qurban yang anda pilih sudah baik? Cermati beberapa hal berikut sebelum membeli.

Sejak masa kenabian, tata cara penyembelihan qurban serta landasan hukumnya telah secara ketat diatur oleh syari’at islam. Hal ini disebabkan karena pelaksanaan qurban (Udhiyyah) merupakan suatu hal yang spesial dan termasuk salah satu bentuk ibadah yang merupakan salah satu amalan sunnah pada hari raya idul adha dan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Menurut Pengasuh Pesantren Madinatul Ilmi Pagelaran KH Muhammad Nur Aziz, kegiatan ini memiliki hikmah yang sangat mendalam, yaitu sebagai bentuk keteguhan hati dalam melaksanakan perintah dari Allah SWT. Pemilihan kambing sendiri merupakan simbol sifat nafsu hewan yang bisa saja masuk ke dalam diri manusia dan setiap nafsu yang menghalangi cinta kepada Allah harus dihilangkan/ disembelih. Untuk itu, muslim yang memiliki kelapangan rizki diharapkan untuk dapat berqurban.

Lantas kambing qurban bagaimanakah yang baik untuk disembelih? Apakah memiliki kriteria yang sama dengan kambing yang digunakan untuk aqiqah? Simak penjelasannya berikut ini.

EMPAT SYARAT UTAMA HEWAN QURBAN

Pertama, hewan tersebut termasuk dalam kelompok Bahimatul An’am, yaitu unta/ camel, sapi/ cow dan kambing yang mencakup kambing biasa/ goat (dengan bulu lurus dan kasar) dan domba/ sheep (dengan bulu wol).

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Aku syariatkan Mansak, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka (Bahimatul An’am)” (Al-Hajj; 34)

Mansak dalam hal ini merupakan aktivitas menyembelih hewan qurban. Dalam sebuah sumber, disebutkan sebuah hadits dari As-Syaukani yang memperkuat syarat ini, yaitu:

“Bahimatul An’am adalah unta, sapi dan kambing.” (Fathu Al-Qodir, vol.3 hlm 642)

Kedua, hewan tersebut haruslah memenuhi usia minimal yang ditetapkan syari’at untuk disembelih. Dilansir dari berbagai sumber, berikut usia minimal kambing yang boleh disembelih.

  • Kambing (goat): 1 (satu) bulan Hijriyyah
  • Domba (sheep): 6 (enam) tahun Hijriyyah

Menurut hadits dari Mujasyi’ bin mas’ud radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya domba usia 6 bulan nilainya sama dengan kambing usia 1 tahun.” (HR. Abu daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani). (Kompasiana)

Cara menentukan umur kambing. (Sumber: piramidafood.com)

Kemudian, jika kedua syarat usia tersebut sulit untuk dipenuhi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kecuali jika itu sulit kamu peroleh, sembelihlah Jadza’ah domba.” (H.R. Muslim).

Definisi Jadza’ah pada kambing adalah semua kambing yang usianya telah genap 6 (enam) bulan. Namun perlu diingat bahwa hal ini hanya berlaku juga apabila tidak ada unta dan sapi yang menuhi syarat usia tertentu (Unta 5 tahun, dan Sapi 2 tahun).

Ketiga, hewan-hewan tersebut haruslah bebas aib/ cacat. Terdapat 4 (empat) aib/ cacat utama yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. ‘Aroj Bayyin (pincang),
  2. ‘Awar Bayyin (buta sebelah),
  3. Marodh Bayyin (sakit), dan
  4. Huzal (kurus yang membuat sungsum hilang).

Sumber hadits untuk hal ini diriwayatkan dari Al-Bara’ bin ‘Azib, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, ‘Apa yang harus dijauhi untuk hewan kurban? ‘ Beliau memberikan isyarat dengan tangannya lantas bersabda: “Ada empat.” Barra’ lalu memberikan isyarat juga dengan tangannya dan berkata; “Tanganku lebih pendek daripada tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (empat perkara tersebut adalah) hewan yang jelas-jelas pincang kakinya, hewan yang jelas buta sebelah, hewan yang sakit dan hewan yang kurus tak bersumsum.” (HR. Malik)

Contoh kambing yang cacat. (Sumber: id.islamkingdom.com)

Akan tetapi, sebagian ulama menambahkan hadits kelima yaitu ‘Adhob (telinga/tanduk hilang lebih dari separuh). Hal ini diriwayatkan dalam hadits oleh Ibnu Majah dari Ali.

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dia menyebutkan bahwa dirinya pernah mendengar Jurayy  bin Kulaib menceritakan bahwa dia mendengar Ali menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berkurban dengan hewan yang tanduk dan telinganya hilang lebih dari separuh (cacat).” (H.R.Ibnu Majah)

Syarat keempat merupakan syarat yang paling penting karena syarat-syarat lain tidak akan batal jika syarat ini tidak terpenuhi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima kecuali yang baik…” (HR. Muslim).

Berdasarkan riwayat tersebut, jelas disebutkan bahwa hewan-hewan tersebut harus dimiliki dengan cara kepemilikan yang halal, sehingga tidak sah berkurban dengan binatang hasil merampas, hewan curian, atau dimiliki dengan akad yang haram, atau dibeli dengan uang yang murni haram, seperti riba.

Selain keempat syarat-syarat hewan qurban tersebut, terdapat syarat-syarat lain untuk memilih kambing qurban. Yang paling utama menurut sifatnya adalah hewan yang memenuhi sifat-sifat sempurna dan bagus dalam binatang ternak, diantaranya:

  1. Gemuk,
  2. Dagingnya banyak,
  3. Bentuk fisiknya sempurna,
  4. Bentuknya bagus, dan
  5. Harganya mahal

Sedangkan yang dimakruhkan dari hewan kurban adalah:

  1. Telinga dan ekornya putus atau telinganya sobek, memanjang atau melebar,
  2. Pantat dan ambing susunya putus atau sebagian dari keduanya seperti –misalnya putting susunya terputus,
  3. Gila,
  4. Kehilangan gigi (ompong), dan
  5. Tidak bertanduk dan tanduknya patah

CARA MEMILIH KAMBING KURBAN YANG SEHAT

Memilih kambing qurban yang sehat juga merupakan hal yang sangat penting karena setelah disembelih, dagingnya akan diberikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa kambing yang akan disembelih tidak memiliki penyakit yang dapat membahayakan orang banyak.

Kambing Putih Qurban. (Sumber: masjamal.com)

Untuk mengetahui hewan sehat atau sakit adalah dengan mediagnosa (klik: cara diagnosa) hewan bagi dokter atau paramedik, sedang untuk orang awam dapat dilakukan melalui berbagai cara diantaranya dengan bertanya, melihat (inspeksi), meraba (palpasi) dan membau. Dilansir dari kompasiana.com, Berikut ini berbagai cara (tips) yang bisa digunakan bagi masrakat umum /awam untuk mengetahui (memeriksa /memilih) bagaimana status kesehatan hewan, terutama kambing:

  1. Periksa dengan menganalisa sejarah kambing yang ingin dibeli: tanyakan keterangan sejelas-jelasnya pada pemilik kambing. Pilih yang keterangannya paling tidak meragukan.
  2. Periksa kondisi badan: pilih yang badannya proporsional.
  3. Periksa sikap berdiri dan cara berjalan: pilih yang cara berdiri dan berjalannya normal.
  4. Periksa reflek terhadap rangsang luar: kambing yang responnya kurang baik mengindikasikan bahwa kambing tersebut sedang sakit.
  5. Periksa Kulit dan bulu: pastikan kambing yang ingin dibeli tidak memiliki luka atau penyakit kulit lainnya.
  6. Periksa Moncong: kambing yang sehat memiliki moncong yang lembap.
  7. Periksa Mata: kambing yang sehat ialah yang tidak memiliki tahi mata (bersih) dan tidak ada parasit (cacing) dalam kelopak mata.
  8. Periksa telinga: Pastikan telinganya bersih.
  9. Periksa anus: Pastikan anus dan sekitarnya tidak ada kotoran yang menempel.
  10. Periksa Feses: kambing yang sehat memiliki feses yang padat dan tidak berdarah.
  11. Periksa Urine: kambing yang sehat memiliki urine yang jernih dan tidak berbusa.
  12. Lakukan Palpasi: Raba kelenjar kelenjar lymfe kambing di daerah leher dan deteksi apakah kelenjarnya mengalami kebengkakan dan kesakitan jika diraba.
  13. Periksa dengan cara membaui: Bau kotoran hewan yang sakit berbeda dengan hewan sehat, apalagi hewan yang sedang terkena penyakit yang diiringi gejala diare berdarah.

Dalam proses mendeteksi kambing yang sehat, perlu diingat ialah bahwa cara-cara tersebut diatas harus dilakukan secara berurutan untuk menghindari ketidaknyamanan pada kambing. Jika kambing tersebut menjadi stress, hasil nya pun akan berbeda. Hal ini pun dapat berpengaruh terhadap proses penyembelihan, dimana kambing tersebut dapat mengamuk. Pada saat hal tersebut terjadi, sangat diperlukan penanganan khusus.

 

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.