Indonesia dan Malaysia: Saudara, tapi kok berantem melulu?

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kejadian terbaliknya lambang bendera Indonesia di Buku Panduan SEA Games 2017 yang diadakan di Malaysia. Berita ini viral setelah Menpora Imam Nahrawi berkicau di akun Twitternya pada 19 Agustus 2017 lalu. “Pembukaan yg bagus tapi tercederai dg keteledoran fatal yg amat menyakitkan. Bendera kita….Merah Putih. Astaghfirullaah…” cuitnya.

Tweet ini langsung ramai dibalas dengan komentar-komentar netizen baik netizen Indonesia maupun netizen negeri jiran. Bahkan banyak dari mereka yang sampai adu emosi melalu tweet.

Kesalahan dalam pencetakan bendera Indonesia kemungkinan besar terjadi karena ketidak-sengajaan, namun boleh jadi karena tuan rumah dari acara tersebut adalah Malaysia, netizen Indonesia menjadi cepat tersulut emosinya. Meskipun bertetangga, memang kerap kali kita berselisih paham dan ribut dengan negeri jiran. Pernah bertanya-tanya nggak sih, kenapa gini amat hubungan kita dengan tetangga yang bahkan serumpun?

Usut punya usut, ternyata hubungan Indonesia dan Malaysia mulai ‘panas’ hingga pernah sampai ‘perang’ dimana tentara Indonesia menyerang Malaysia di Johor di tahun 1961-1963!

Penyebabnya, awalnya tahun 1961 Malaysia mau menggabungkan Malaya, Sabah, Sarawak, Brunei dan Singapura menjadi sebuah federasi negara baru, bernama Malaysia. Indonesia tidak setuju dengan ide ini karena berarti negara tersebut akan berstatus neo-kolonial dan juga Inggris tetap memiliki kuasa atas Malaysia dan dapat mengancam ekonomi hingga kemerdekaan Indonesia. Waktu itu, Indonesia ngambek dan memutuskan untuk melakukan konfrontasi dalam hal ekonomi dan hubungan sosial dengan Malaysia.

Meskipun sebenarnya ada usaha untuk melakukan diskusi antar kedua negara, tentara Indonesia mulai terlibat dalam penggerebekan, sabotase, dan sebagainya di Sarawak dan Sabah.

Akhirnya pemimpin kedua negara bertemu dan berdiskusi pada Mei 1963, yaitu antara presiden kita Soekarno dan Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman. Disepakati bahwa sebelum pembentukan federasi negara baru, akan diadakan sistem referendum. Eh tapi nggak lama yaitu 16 September 1963, Malaysia mengumumkan bahwa federasi telah terbentuk. Jeng jeng… Soekarno bete dong, merasa dikhianati, ditambah lagi makin dipanas-panasin sama massa demonstran Malaysia saat itu.

Ketika itu beberapa rakyat Malaysia yang kesel sama Indonesia membuat demonstrasi hingga membawa lambang negara kita, Garuda Pancasila, ke rumah Tunku Abdul Rahman untuk memintanya menginjak lambang tersebut. Kejadian ini bikin Presiden Soekarno makin naik pitam. Akhirnya muncullah kampanye ‘ganyang Malaysia’. Tapi nggak lama, dengan banyaknya konflik di dalam negeri sendiri, akhirnya Indonesia sibuk sendiri. Hingga di masa pemerintahan presiden setelahnya, Pak Soeharto, hubungan kedua negara ini akhinya adem lagi.

Propaganda Ganyang Malaysia

Dari sumber-sumber yang mimin baca untuk menyusun tulisan ini, masih kelihatan jelas keberpihakan penulis-penulis ketika menyusun artikel mengenai sejarah konflik Indonesia – Malaysia ini. Kalau penulisnya orang Indonesia, pasti menjelek-jelekan rakyat Malaysia yang childish dengan menginjak-injak lambang negara orang lain. Sebaliknya, kalau penulisnya orang Malaysia, pasti menjelek-jelekan Presiden Soekarno yang dianggap terlalu ikut campur urusan orang lain.

Semua orang bebas berpendapat, namun akan lebih bijak jika kita dapat tetap menjaga sopan santun. Kembali ke kejadian bendera terbalik, hal ini semoga bisa jadi pembelajaran untuk Malaysia untuk lebih teliti lagi. Selain itu, untuk rakyat Indonesia *ehem Pak Menpora ehem* semoga bisa menjadi pembelajaran untuk lebih tidak reaktif lagi dalam bersosial-media. Padahal tinggal bilang sama panitianya aja, nggak perlu di-tweet kan juga bisa beres ya? Hehe…

Selingan: daripada berantem mendingan kita main tebak-tebakan.

Sumber: National Library Singapore dan Portal Berita Cilisos Malaysia.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.