Perempuan ini pernah gagal 2 kali dalam pernikahan. Nasehat-nasehat darinya akan membuat kita merenung.

Orang bijak mengatakan, pengalaman ialah guru terbaik dalam hidup ini. Walaupun kita selalu gagal, pasti ada hikmah yang dapat kita ambil sebagai bahan pembelajaran bagi orang lain dan juga kita sendiri kedepannya. Itulah kadang mengapa kegagalan menjadi suatu hal yang sangat berharga bagi kita.

Dalam pernikahan, kita pasti berharap akan bahwa nantinya kita akan menjalani hidup bersama pasangan kita selamanya. Namun, adakalanya seseorang mengalami kegagalan dalam hal tersebut. Jika kamu adalah orang tersebut, kamu pasti akan banyak belajar dan memperbaiki diri dari kegagalan-kegagalan sebelumnya.

www.womansday.com

Karen Lodato, pemilik blog eightrising.com, adalah satu dari sekian banyak wanita yang mengalami dua kali kegagalan dalam pernikahan, dan dengan rendah hati Karen membagikan beberapa nasihat pernikahan untuk para istri yang ingin memiliki pernikahan yang langgeng dan bahagia. Jika kamu tidak ingin mengalami kegagalan dalam berumah tangga seperti Karen, sebaiknya kamu simak baik-baik nasehat-nasehatnya berikut ini.

1. Hormati Suami

Salah satu kebutuhan terbesar seorang lelaki adalah penghargaan dari sekitarnya, dan orang pertama yang ia harapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut ialah istrinya sendiri. Selalu ucapkan rasa terima kasih kita dengan tulus, hargailah setiap keputusannya meski mungkin menurutmu itu konyol. Jika ia salah, beri pengertian dengan kata-kata dan tingkah laku yang baik dan lembut serta jangan menggurui. Bagaimanapun juga, suamimu ialah kepala keluarga di dalam keluarga kecilmu. Dengan kita menghormatinya, ia akan termotivasi untuk memberikan yang lebih baik untuk kita dan keluarga.

2. Jagalah Hati

Kadang kita berfikir bahwa rumput tetangga lebih hijau dan pernikahan mereka lebih bahagia. Padahal tidak selalu begitu, lho. Mereka juga memiliki kekurangan dalam pernikahan mereka, hanya aja mereka tidak menceritakannya keluar, karena itu kamu melihat bahwa mereka bahagia, padahal tidak juga. Kalian harus percaya bahwa apapun yang telah diberikan oleh Tuhan ialah yang terbaik untuk kita. Intinya, kunci pernikahan bisa menjadi bahagia adalah dengan mensyukuri apa yang kita miliki.

3. Tuhan, Suami dan Anak. Itu Urutan Prioritas Kita

Dalam hidup ini, suami haruslah menjadi prioritas kedua setelah Tuhan. Namun, bukan berarti Karen menyarankan kita untuk mengabaikan anak-anak demi melayani keperluan suami.

Dilansir dari rockingmama.id, kamu pasti ingat kalau setiap kali pesawat hendak lepas landas, pramugari dan pramugara akan selalu memperagakan prosedur keselamatan dalam keadaan darurat. Dalam prosedur tersebut, mereka selalu meminta kita, para orang tua, untuk mengenakan masker oksigen terlebih dahulu sebelum menolong anak-anak. Hal ini tentunya bukan karena anak-anak lebih tidak penting dari orang dewasa. Justru kita tidak akan bisa menolong anak kita kalau kita sendiri kesulitan bernapas. Hal yang sama berlaku dengan pernikahan dan parenting. Kita tidak akan dapat menjalankan peran orang tua dengan efektif jika pernikahan kita berantakan. Setidaknya, begitulah pengalaman Karen.

4. Maafkan Kesalahan-Kesalahan Kecil

Kadang, kebencian bisa timbul dari hal-hal terkecil sekalipun, seperti melempar sepatu sembarangan, melempar baju bekas pakai di lantai, dan tidur tanpa mematikan TV. Hal-hal tersebut jika dilakukan terus menerus pastinya akan membuat semua orang kesal, tidak terkecuali denganmu. Tapi jika kebiasaannya tidak bisa diubah, pasti akan timbul benih-benih kebencian dalam dirimu. Hal ini harus buru-buru kamu tepis. Kenapa? Jelas, karena tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Jika kamu dapat memaafkan dan menoleransi setiap kebiasaan-kebiasaan kecil yang menurutmu mengesalkan, dijamin kamu akan menjadi lebih bahagia dibanding sebelumnya. Tapi bukan berarti kamu saja yang harus seperti itu, semua anggota keluargamu juga harus seperti itu, maka berilah pengertian secara perlahan tapi pasti agar kehidupan keluargamu semakin harmonis.

5. Komunikasi Yang Baik

Karen memiliki kebiasaan jelek yang ia lakukan selama bertahun-tahun dalam dua pernikahan sebelumnya, yaitu tidak mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Ia selalu berharap sang suami dengan sendirinya mengerti, kenapa ia marah atau sedih.

Merasa seperti itu? Sebenarnya, sebagian besar wanita seperti itu, lho, bahkan kamu yang masih pacaran pun sama saja.

Nah, ingat ya, kebiasaan ini tidak adil bagi para suami. Mereka, tidak selalu dapat membaca pikiran atau bahasa tubuh kalian para wanita. Para suami ini pun tidak selalu sadar kalau mereka telah bersikap tidak sensitif terhadap perasaan kita. Jadi yang harus kita lakukan adalah komunikasikan perasaan seterbuka mungkin. Namun, bukan berarti kamu bisa langsung marah-marah kepadanya ya, kamu perlu baca situasi dan menyampaikan perasaanmu secara baik dan bisa diterima oleh suamimu. Jika tidak, bukan tidak mungkin akan muncul perang dunia selanjutnya.

6. Buatlah Jadwal Kencan

Bukan, bukan jadwal kencan dengan pria lain, tapi dengan suamimu sendiri. Siapa bilang orang yang sudah menikah tidak boleh kencan? Meskipun sudah menikah, kencan ini perlu sekali, fungsinya untuk menguatkan komunikasi dan menjaga keharmonisan keluarga. Jadwalkan kencan dengan suami setiap minggu atau dua minggu sekali, ya. Sebulan sekali juga boleh jika suamimu sangat sibuk, akan tetapi jangan lama-lama.

Sudah punya anak, masa ditinggal begitu saja? Tenang, kencan kan tidak harus selalu di luar rumah, kamu bisa menidurkan anak lebih cepat, lalu membuat popcorn atau cemilan lainnya untuk dimakan sambil menonton film kesayangan berdua saja bersama suamimu. Jika tidak suka menonton, kamu dan suami bisa duduk-duduk di teras sambil minum segelas teh hangat dan camilan kesukaan berdua, atau melakukan hobi yang kalian biasa lakukan bersama.

Sejenak kamu dan suami juga perlu melupakan urusan rumah tangga, tagihan uang sekolah anak atau kenakalan si kecil seharian itu. Hal-hal seperti ini dapat menguatkan ikatan emosional antara kalian berdua, lho.

7. Jangan Pernah Ucapkan Kata “C”

Semarah apa pun, saat sedang bertengkar jangan mudah meminta cerai atau mengatakan terang-terangan bahwa kamu menyesal menikahinya. Hal ini dapat membuat suamimu berpikir untuk menyudahi pernikahanmu dengannya.

Menurut Karen, mengancam suami untuk bercerai bukanlah seni bertengkar yang baik dan adil. Ia sering melakukannya pada pernikahannya sebelumnya dan hasilnya tidak baik sehingga menjadi pelajaran berharga baginya.

Meskipun kita terluka begitu dalam dan ingin membalas, mengucapkan kata cerai untuk mengancam suami tidak akan membuat kita merasa lebih baik, justru keadaan akan menjadi semakin buruk, lho. Ini serius.

8. Ketahui Bahasa Cintanya

Semua orang punya bahasa cinta. Bagaimana kita memandang serta merasakan cinta bisa berbeda dengan pasangan dan anak-anak. Apakah suami menyukai kata-kata penuh pujian dan kasih sayang, atau dia lebih suka saat kamu memberinya hadiah? Apakah suamimu suka meledekmu atau memberiku pujian? Apapun bahasa cintanya, pelajari dan praktikkan dan ingat baik-baik, jangan sampai karena kamu salah mengartikan, dia bisa kesal kepadamu, ya.

9. Jangan Pernah Berbicara yang Jelek-Jelek tentang Suami kepada Orang Lain

Jika kamu mengalami masa-masa sulit dalam pernikahan, bicarakan pada seseorang yang netral, lebih baik lagi jika berbicara kepada ahlinya, seperti psikolog atau konselor pernikahan profesional. Curhat kepada keluarga memang baik, tapi mereka hanya mendengar dari satu sisi, yaitu sisimu. Sehingga mereka pasti akan cenderung membelamu, dan malah bisa membangun perasaan negatif kepada pasangan kita, yang biasanya tidak akan berkurang dan bahkan bisa berlangsung terus ketika kamu dan suami sudah melewatinya. Jadi semarah dan sekesal apa pun kita kepada suami, lindungilah citranya dengan hanya meminta pendapat objektif dari ahlinya. Karena melindungi citra suami adalah salah satu kewajiban istri, lho.

Nah itulah beberapa nasihat dari Karen yang dapat kamu renungkan dalam menjalani hidup berumah tangga. Jangan sampai rumah tanggamu kandas karena hal-hal sepele yang biasa kamu atau suamimu lakukan, ya. Semoga pernikahanmu bahagia.

Berikan komentar

Komentar spam, kami hapus. Terima kasih.