Suami Istri Bahagia Tergantung pada 3 Jurus Komunikasi yang Lancar Ini
in

Suami Istri Bahagia Tergantung pada 3 Jurus Komunikasi yang Lancar Ini

Ada yang bilang, rahasia suami istri bahagia itu ada pada kelancaran komunikasi yang terjalin antara keduanya. Ya, ini bener banget. Kebayang kan, kalau keduanya sama-sama kesulitan untuk mengungkapkan perasaan atau pikirannya pada pasangan? Bakalan banyak salah paham!

Padahal, kalau dilogika sih, seharusnya berbincang dengan suami akan jauh lebih mudah ketimbang berbincang dengan seseorang yang baru kita kenal kan? Lantaran seharusnya pasangan suami istri ini sudah terlatih satu sama lain untuk tahu apa yang disuka, apa yang tidak, apa yang diinginkan, dan apa yang nggak diinginkan. Bahkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang konyol yang kerap muncul di setiap harinya, seharusnya kita pun hafal. Kita tahu kalau suami mengorok saat tidur. Suami pun hafal kebiasaan mandi kita yang makan waktu satu jam. Kita juga tahu suami bakalan tertidur saat kita ajak nonton film drama, dan suami juga hafal betul kalau kita nggak mau diganggu kalau lagi nonton drama Korea.

Bukankah yang begini ini normal dalam sebuah pernikahan? Kalau iya, berarti bukankah dengan demikian seharusnya semua pasangan suami istri bahagia?

Ternyata tidak. Punya chemistry dan ikatan batin yang kuat antara suami dan istri itu tak selalu menjadi jaminan bagi komunikasi yang lancar.

Sebuah penelitian dari psikolog sekaligus seorang profesor dari William College, Ken Savitsky Ph.D, menyebutkan, bahwa semakin dekat hubungan kita dengan seseorang (dalam hal ini suami), maka justru akan semakin sulit untuk menyatukan mindset masing-masing. Bahwa meski kita telah lama pacaran dan kemudian menikah, itu bukan berarti suami akan langsung dengan cepat mengerti apa yang kita maksud, dan begitu pula sebaliknya.

Apalagi kalau kita berbicara secara telepati–seperti kebiasaan para perempuan pada umumnya–atau dengan kode-kode, atau dengan sindiran. Bicara mengenai topiknya langsung saja kadang susah nyambung, apalagi dipenuhi dengan isyarat-isyarat.

BACA JUGA:  Demi rekor pernikahan, wanita ini rela jadi gendut

 

Yuk, coba kita cari tahu rahasia melancarkan jalinan komunikasi agar hubungan suami istri bahagia bisa tercapai

 

Komunikasi yang lancar jaminan suami istri bahagia.
Komunikasi yang lancar jaminan suami istri bahagia. Image via Crosswalk.com.

1. Minimalisasi kode-kode rahasia dan isyarat-isyarat

Jadi, kapan terakhir kali kita dan pasangan bertengkar karena salah paham? Semalam? Kemarin? Minggu lalu? Seberapa sering kita dan pasangan bertengkar? Jarang, sering, atau bahkan setiap hari?

Kalau salah satu kerap kesal hanya karena yang lainnya tak pernah mengerti yang dikatakan, maka mungkin kita harus mengganti cara untuk mengatakannya.

Kita harus berbicara langsung ke intinya, tanpa kode, tanpa sindiran, tanpa isyarat.

“Pasangan sering mengatakan pernyataan yang bias dan tidak jelas, itulah yang biasanya menyebabkan pertengkaran terjadi,” jelas James Cordova Ph.D, penulis buku The Marriage Checkup.

Kode-kode, isyarat, sindiran, dan kalimat-kalimat ambigu adalah beberapa bentuk pernyataan yang bias dan tak jelas.

Misalnya, saat kita bertanya jam berapa suami pulang dari kantor hari ini, yang kemudian dijawab, “Aku mau ketemuan dulu dengan teman lama, nggak lama kok.” Tapi nyatanya sampai pukul 12 malam, suami belum juga pulang.

Nah, jawaban “nggak lama kok” tersebut adalah kalimat ambigu, yang akhirnya membuat kita dan pasangan punya interpretasi yang berbeda.

Lalu, bagaimana harus mengatasi hal ini? Mudah sebenarnya, jika masing-masing mau memperjelas apa yang dimaksud. Dan kalau memang kurang jelas, masing-masing juga harus bisa menanyakannya langsung dengan lebih spesifik.

Lama kelamaan, masing-masing pasangan akan menyadari informasi seperti apa yang ingin didengar dari yang lainnya. Semakin jelas pesan yang diterima tanpa mengaburkan arti, maka kesalahpahaman pun akan semakin berkurang.

 

2. Harus diingat, pasangan bukanlah pembaca pikiran

Satu kesalahan fatal dalam sebuah hubungan–terutama hubungan suami istri–yaitu, karena beranggapan dan percaya bahwa satu diciptakan karena yang lain, maka pikiran pun nyambung tanpa harus berkata-kata.

Karena sudah menikah, maka otomatis suami dan istri pun bisa bertelepati satu sama lain, hanya karena masing-masing sudah merasa bahwa karakternya sudah dikenali dengan baik oleh pasangannya.

BACA JUGA:  Ingin Pernikahan yang Bahagia? Rencanakan 6 Hal Berikut Ini.

Salah besar!

Tak selamanya apa yang kita pikirkan sama dengan yang suami pikirkan, begitu pula sebaliknya. Meski perempuan dianugerahi insting yang lebih baik ketimbang pria, namun tetap saja, jika tidak bertanya maka tidak ada situasi yang akan kita ketahui benar-benar.

Masing-masing selalu menganggap bahwa lawan jenisnya adalah makhluk yang sukar ditebak. Pria menganggap, perempuan itu menjengkelkan dengan segala sikapnya yang tak jelas. Ditanya ada apa, jawabannya, “Nggak apa-apa.” Tapi kemudian malah menangis.

Bagi perempuan, pria juga menjengkelkan, dan susah sekali ditebak.

Ingat, kita tidak pernah dianugerahi kekuatan super untuk bisa membaca pikiran orang lain. Kita bukan mind reader. Pasangan kita juga bukan mind reader. Jadi, ayolah, jangan bersikap seperti seorang mind reader, juga jangan menganggap pasangan mempunyai kekuatan yang sama.

Tak ada salahnya, masing-masing sebelum menyembur marah, jauhkan dulu semua pikiran negatif dari kepala. Tarik napas dalam-dalam, dan kemudian cobalah untuk bertanya secara baik-baik.

Inilah rahasia terbesar suami istri bahagia.

 

3. Komunikasi non verbal yang tepat

Gerak tubuh, kontak mata, dan ekspresi wajah merupakan tiga faktor penting dalam proses komunikasi. Apalagi untuk obrolan sepasang suami istri bahagia.

Tapi hati-hati dengan bias pesan yang terjadi antara perkataan dengan bahasa tubuh. Misalnya, kita hanya bertanya sih sebenarnya. Tapi karena kita ngomongnya sambil berkacak pinggang, ya jadinya seperti sedang mendamprat.

Tentu akan lebih baik jika kita pasang ekspresi santai, dan tangan yang bebas lepas. Kalaupun memang perlu, cukup menyilang saja, meski sebenarnya gestur bersidekap biasanya berarti kita sedang menutup diri.

Hal ini sudah bisa mengirimkan sinyal pada pasangan, bahwa kita sedang mengajak berdiskusi secara serius, dan mau bersama menemukan solusi.

BACA JUGA:  Memilih Gedung Pernikahan, Biasanya Calon Pengantin Akan Melakukan 5 Kesalahan Ini

Steven Stosny, Ph. D, salah satu penulis dari How to Improve Your Marriage Without Talking About It, menyarankan, bahwa komunikasi akan berjalan dengan lebih baik jika kita memegang tangan pasangan sembari berbincang bisa membantu mencairkan suasana. Dengan memberikan sentuhan lembut di bagian lengannya atau lutut saat berbicara akan membuat pasangan merasa semakin dekat satu sama lain.

 

Nah, jadi tak begitu sulit kan sebenarnya untuk memperbaiki cara berkomunikasi demi hubungan suami istri bahagia ini? Dan, sebenarnya, bisa dilakukan oleh setiap pasangan.

Jadi, ayo, mulai membuat kebiasaan baru berkomunikasi sekarang, agar suami istri bahagia, keluarga pun jadi sehat lahir dan batin.

Ditulis oleh Carolina Ratri

Content & Copywriter. Sketcher. Editor. Visual Communicator. Graphic designer. Mood swinger. INFJ-T Sagittarian. Sarcasm speaker. Author of Bicara Perempuan

Rahasia Mengatur Keuangan Pribadi ala Pria yang Harus Diketahui oleh Perempuan

Rahasia Mengatur Keuangan Pribadi ala Pria yang Harus Diketahui oleh Perempuan

Gaya Busana Kita Menentukan Identitas Diri - Bagaimana Cara Menemukan yang Pas?

Gaya Busana Kita Menentukan Identitas Diri – Bagaimana Cara Menemukan yang Pas?