Memberi Mainan Anak Berlebihan Bisa Menimbulkan Sindroma pada Si Kecil Lo!
in

Memberi Mainan Anak Berlebihan Bisa Menimbulkan Sindroma pada Si Kecil Lo!

Kadang karena alasan sudah begitu lama menunggu kelahiran si malaikat kecil, maka banyak orang tua menjadi sangat memanjakannya. Berbagai mainan anak pun memenuhi kamar si kecil, dari yang bisa didapatkan di pasar-pasar malam, hingga yang harus didapatkan di toko mainan di dalam mal besar di ibukota, semua ada. Dari boneka teddy bear super besar, hingga mainan hot wheels yang ukurannya mini itu semua tersedia.

Hmmm, tentu kita akan membayangkan, betapa bahagianya si malaikat kecil ini ya. Dia mau bermain apa saja ada, tinggal pilih. Kalau rusak, ayah dan ibunya akan segera menggantinya dengan mainan anak model terbaru.

Wow!

Yah, orang tua mana sih, yang tak menyayangi anak-anaknya? Sehingga kadang rasa sayang ini diungkapkan dengan terlalu berlebihan. Misalnya dengan membelikan berbagai macam mainan anak dalam jumlah yang banyak.

Tapi, sadarkah kita, bahwa ternyata mainan anak yang secara berlebih diberikanakan menimbulkan sindroma tersendiri bagi si kecil?

Lo, kok bisa? Bukankah si anak tentu akan merasa senang, semua imajinasi dan keinginannya terpenuhi? Mau apa lagi anak-anak kalau tidak bermain?

Margaret Sheridan, Ph.D, Kepala Departemen Perkembangan di Connecticut College, New London, menyebutkan, bahwa anak yang terlalu banyak dibanjiri dengan hadiah-hadiah berupa mainan akan mengalami kesulitan membagi perhatian pada mainan-mainan tersebut. Ini akan mengakibatkan anak akan mudah bosan dan sulit fokus pada satu jenis permainan saja.

Sedangkan Shelley Lindauer, Ph.D, seorang ahli perkembangan anak yang lain, yang menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Perkembangan Anak Adele & Dale di Utah State University, Logan, juga menambahkan, bahwa dengan jumlah mainan anak yang berlebihan akan membuat si kecil sulit menghargai dan tidak belajar tanggung jawab.

Keadaan ini oleh para ahli disebut sebagai sindroma mainan berlebih. Anak yang mengalami sindroma ini biasanya merupakan anak sulung atau anak semata wayang.

Memang tidak mudah ya, bagi orangtua untuk bisa mengekang diri dan tidak bersikap berlebihan saat mengekspresikan rasa sayangnya pada si buah hati. Padahal kalau kita bisa membatasi diri dan tak terlalu royal membelikan mainan pada anak, justru akan ada beberapa manfaat yang akan diperoleh si kecil lo.

Di antaranya:

  • Anak-anak akan belajar lebih kreatif untuk menggunakan apa pun sebagai mainan mereka. Saat mereka tak punya mainan untuk dimainkan, mereka akan cenderung mengeksplorasi ruang sekitar mereka, dan kita akan lihat sendiri, bahwa apa pun sebenarnya bisa mereka mainkan.
  • Anak-anak akan memiliki rasa sosial yang lebih tinggi, karena dunia mereka tak melulu tentang mainan dan mainan. Mereka akan lebih memperhatikan orang-orang di sekitar mereka, bahkan tanpa menyadari, mereka akan mengamati perilaku orang yang menarik. Mereka akan lebih aktif berinteraksi dengan ayah dan ibunya, serta keluarga yang lain.
  • Mereka akan lebih menghargai nilai sesuatu yang sudah mereka miliki. Mereka akan mengerti, bahwa mainan adalah barang ‘berharga’ yang harus mereka jaga. Kalau rusak, maka mereka tak lagi punya mainan yang bisa dimainkan.
  • Anak-anak akan lebih punya waktu untuk mengembangkan minat yang lain, seperti membaca buku, menulis, ataupun bermain musik.
  • Rumah tentunya akan lebih bersih dan rapi, jika hanya punya sedikit mainan anak saja. Bayangkan jika mainan-mainan yang banyak itu tersebar di seantero rumah. Ckckck.

 

Karena itu, kalau memang belum terlambat, akan lebih baik bagi ayah dan ibu untuk tak terlalu banyak memberikan mainan-mainan pada si kecil. Justru akan lebih baik jika membuatkan atau mengajak si kecil membuat mainannya sendiri. Pasti dia nanti akan jadi lebih kreatif lagi kan?

Namun jika si kecil sudah terlanjur mempunyai banyak mainan, tak perlu panik juga. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar si kecil tak terkena sindroma mainan berlebih.

 

5 Hal yang bisa dilakukan jika mainan anak berlebihan

 

Lakukan beberapa hal berikut agar mainan anak tak berlebihan.
Lakukan beberapa hal berikut agar mainan anak tak berlebihan. Image via WYPR.

1. Batasi membeli mainan anak lagi

Membeli mainan sebaiknya dilakukan hanya pada hari-hari penting saja.

Buatlah daftar apa yang paling kita butuhkan, dan yang kita inginkan. Semacam wishlist, dan ajaklah si kecil memahami perbedaan antara barang yang dibutuhkan dan diinginkan, juga mengenai skala prioritas.

Saat dia punya keinginan baru, antrekanlah dalam wishlist yang sudah ada. Berbelanjalah mainan hanya berdasarkan barang yang ada dalam wishlist tersebut.

2. Sortir mainan anak yang sudah ada

Bagilah mainan-mainan yang sudah ada sekarangdalam beberapa kelompok. Simpan sebagian, dan biarkan si kecil bermain dengan sebagian mainan yang lain.

Saat ia mulai bosan, keluarkan sebagian yang disimpan dan tukar dengan mainan yang sedang dimainkan sekarang.

Dengan cara begini, si kecil akan menganggap setiap mainan anak yang ia punya selalu baru.

3. Ajak si kecil berbagi

Ini kesempatan bagus untuk  memperkenalkan konsep berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Secara berkala, ajak si kecil untuk mendonasikan mainan-mainan yang sudah bosan dimainkannya kepada yang lebih membutuhkan. Ajak dia ke panti asuhan, misalnya, dan biarkan dia memberikannya sendiri pada anak-anak yang kurang beruntung.

4. Ingat, butuh atau ingin?

Ingat poin pertama di atas? Konsisten.

Jika si kecil meminta untuk membeli mainan, jangan langsung meluluskannya. Biarkan ia memikirkannya kembali hingga beberapa waktu atau beberapa hari. Pastikan ia benar-benar yakin bahwa mainan anak tersebutlah yang benar-benar diinginkannya.

5. Buat sendiri mainannya

Sesekali ajaklah si kecil membuat mainannya sendiri. Misalnya dengan mengajaknya crafting atau membuat hastakarya yang kemudian bisa dimainkannya sendiri. Membuat rumah-rumahan untuk bonekanya, membuat baju untuk bonekanya, dan lain-lain.

Gunakan kreativitas kitaa, dibantu dengan banyak sumber ide yang bisa kita temukan di internet, pasti si kecil akan menikmati aktivitas barunya ini.

 

Ya, dunia anak-anak memang bermain. Namun tak ada salahnya, sembari bermain kita juga mengajaknya belajar. Belajar mencintai apa yang sudah dipunyainya, dan belajar bersyukur.

Selamat bermain bersama si kecil ya!

Ditulis oleh Carolina Ratri

Content & Copywriter. Sketcher. Editor. Visual Communicator. Graphic designer. Mood swinger. INFJ-T Sagittarian. Sarcasm speaker. Author of Bicara Perempuan

Cara Menghilangkan Jerawat dengan Cepat: Kenali Dulu Jenis Jerawatnya Baru Tangani

Cara Menghilangkan Jerawat dengan Cepat: Kenali Dulu Jenis Jerawatnya Baru Tangani

Sering Sakit Kepala? Ini Dia 7 Pemicu yang Mungkin Selalu Kita Lakukan pada Diri Kita Sendiri

Sering Sakit Kepala? Ini Dia 7 Pemicu yang Mungkin Selalu Kita Lakukan pada Diri Kita Sendiri