Mendidik Anak, Jangan Lupa untuk Mengajarkan 5 Hal yang Tak Pernah Diberikan di Sekolah Ini!
in

Mendidik Anak, Jangan Lupa untuk Mengajarkan 5 Hal yang Tak Pernah Diberikan di Sekolah Ini!

Para orang tua berlomba untuk mendidik anak mereka masing-masing dengan mendaftarkannya ke sekolah terbaik, dengan harapan semakin tinggi kualitas sekolah maka semakin bisa menjamin masa depannya.

Benarkah demikian?

Ya, memang tak salah sih kalau orang tua berharap demikian. Siapa sih yang tak berharap banyak, setelah melihat berbagai macam fasilitas unggulan yang ditawarkan oleh sekolah terbaik? Betul, bukan?

Tapi, sebenarnya ada lo, beberapa hal yang tak diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah, yang justru sangat mendasar dan paling penting karena kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Nah, yang begini ini, memang jangan diharapkan untuk diajarkan oleh sekolah. Melainkan kitalah–sebagai orang tua–yang harus memberikan ilmu-ilmu tersebut pada si kecil.

Ilmu-ilmu apa sajakah itu?

 

Jangan lupa mendidik anak dengan ilmu-ilmu penting yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun ini!

 

1. Ilmu membela diri sendiri

Bukan, ini bukan ilmu bela diri yang martial art itu. Bukan. Ini tentang mengungkapkan apa yang ada di pikiran.

Suzita Cochran, seorang psikolog anak, menjelaskan bahwa kemampuan anak untuk membela diri saat masuk usia sekolah sangatlah penting. Kemampuan tersebut akan membantunya meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri. Selain itu, kemampuan membela diri ini juga dapat membantu si kecil untuk menentukan tujuan hidupnya suatu hari nanti.

Lalu, bagaimana caranya mendidik anak agar mampu membela dirinya sendiri?

Caranya, adalah dengan mendorong si kecil untuk menghadapi masalahnya sendiri, namun tentu saja, tetap didampingi oleh orang tua. Misalnya, saat dia menghadapi masalah, tanyakan dulu bagaimana perasaannya, apa penyebab masalah itu timbul. Setelah itu, berikan beberapa alternatif solusi padanya, dan jangan lupa untuk menjelaskan konsekuensi yang mungkin menyertai solusi yang akan dipilihnya.

 

2. Belajar untuk gagal

Beberapa waktu yang lalu, ada berita viral di internet, mengenai seorang mahasiswa yang bunuh diri karena tak lulus saat ujian akhir skripsinya. Berita ini sungguh miris didengar. Orang tua mana pun pasti sedih membaca berita ini.

Bukan sedih semata karena si pemuda harus meninggal dengan cara yang demikian, tapi lebih kepada betapa dia begitu rapuh akan kegagalan. Karena, konon katanya, dia adalah pemuda pintar yang selalu juara dan berhasil di setiap jenjang studinya.

Kita sebagai manusia kan tidak bakalan bisa menghindari dari yang namanya kegagalan. Saat si kecil tak pernah belajar untuk gagal, maka dia bisa dipastikan akan mengalami proses yang sangat sulit sepanjang hidupnya.

Rebecca Weingarten, seorang pendidik dan life coach di New York mengatakan, bahwa merupakan hal yang penting sekali bagi anak untuk bisa belajar menghadapi kegagalan, agar kemudian tak gampang down saat mengalami hal-hal yang negatif.

Saat anak harus gagal dalam prosesnya berkembang, kita memang merupakan orang yang paling penting untuk dapat mengembalikan semangatnya. Bukan hanya dengan menghiburnya. Apalagi lantas kita menyalahkan orang lain atau hal lain yang tak ada hubungannya. Jangan sampai deh ya.

Lebih baik kita ajak si kecil mengobrol santai, kemudian tanyakan padanya. Apakah yang dilakukannya sudah benar? Kesalahannya terletak di mana? Dan, apa yang harus dilakukan kemudian?

Fokuslah pada hal-hal perbaikan, agar tak mengulang kegagalan yang sama.

 

3. Fokus

Coba amati. Saat si kecil sedang mengerjakan sesuatu, mudahkah dia teralihkan perhatiannya pada hal yang lain? Yah, mungkin masih ya.

Si kecil di usianya pasti masih belum bisa fokus menyelesaikan apa yang sudah dimulainya. Dan ini hanya orang tua yang bisa melatihnya, bukan bapak atau ibu guru di sekolah. Kemampuannya untuk fokus akan menentukan seberapa sukses saat dia besar nanti.

Jadi, kita bisa melatihnya dari hal yang kecil. Minta si kecil untuk membantu kita merencanakan dan kemudian menyelesaikan suatu hal. Misalnya, libatkan dia saat kita sedang menyusun daftar belanjaan, kemudian ajak juga dia ikut berbelanja. Minta dia untuk hanya memasukkan barang-barang yang ada di daftar belanjaan ke dalam keranjang. Bukan permen, bukan lolipop kesukaannya (kalau memang itu tak ada dalam daftar).

Matikan televisi saat sudah tiba waktunya mereka belajar, dan luangkan satu jam atau dua jam tanpa gadget dan televisi di malam hari, misalnya, agar semua fokus pada waktu family time.

 

4. Empati pada orang lain

Empati merupakan kemampuan yang penting yang harus diajarkan saat kita mendidik anak. Setuju kan?

Karena empati menjadi bekal mereka untuk bersosialisasi dengan orang lain, misalnya saja teman-teman sekolahnya, atau teman-teman bermainnya. Tanpa adanya rasa empati, si kecil tak akan tahu, kapan mereka menyakiti orang lain, juga tak akan tahu bagaimana bahagianya bisa berbagi dengan orang lain.

Untuk melatihnya, bisa dengan cara membacakannya cerita anak yang bagus. Carilah cerita di mana di dalamnya ada tokoh yang menghadapi masalah tertentu. Kemudian tanyakan pendapat si kecil, dan bagaimana perasaannya terhadap si tokoh. Apakah ikut merasa senang? Atau ikutan sedih? Dan seterusnya.

Atau, kita juga bisa mendampinginya saat menonton televisi dan kebetulan ada berita mengenai hal-hal yang terjadi di seputar kita. Tanyakan perasaannya, dan dorong dia untuk mengekspresikan perasaannya tersebut. Terakhir, selalu apresiasi apa pun yang diutarakannya ya.

 

5. Kemampuan berkomunikasi

Kemampuannya berkomunikasi dengan baik, terutama dengan orang dewasa lainnya, akan membantunya untuk berhasil membangun hubungan yang kuat dengan siapa pun, termasuk dengan gurunya di sekolah.

Kemampuannya berkomunikasi akan dapat membantunya juga untuk sukses menjadi pemimpin.

Di sini, kita harus bisa menjadi contoh untuknya. Bagaimana cara kita berkomunikasi dengannya, atau dengan pasangan, atau dengan teman-teman kita, pasti akan ditirunya.

Jadi, pastikan kita bisa mengendalikan cara bertutur kita.

 

Mendidik anak memang bukan perkara mudah. Tapi, dengan bekerja sama dengan pasangan, dengan para guru di sekolah, dan juga dengan banyak membaca, kita pasti bisa mendidik anak menjadi pribadi yang baik.

Ditulis oleh Carolina Ratri

Content & Copywriter. Sketcher. Editor. Visual Communicator. Graphic designer. Mood swinger. INFJ-T Sagittarian. Sarcasm speaker.

7 Alasan Mengapa Bayi Menangis - Panduan untuk Para Ibu Baru

7 Alasan Mengapa Bayi Menangis – Panduan untuk Para Ibu Baru

4 Cek Kesehatan yang Seharusnya Rutin Dilakukan oleh Perempuan untuk Sehat Sepanjang Hidup

4 Cek Kesehatan yang Seharusnya Rutin Dilakukan oleh Perempuan untuk Sehat Sepanjang Hidup